Tentang Tujuan

Bayangkan, di suatu malam, kamu tenggelam. Mencoba mengambang, berenang. Sekeliling hitam, warna gelap malam. Apa yang akan kamu lakukan? Jelas, cari tujuan, dan berenang ke daratan. Mungkin di sekelilingmu ada beberapa pulau terdekat, kamu bebas memilih yang mana saja. Yang jelas, memilih semuanya dan berganti-ganti tujuan di tengah jalan bukan jawaban, hanya akan membuatmu kelelahan. Baca lebih lanjut

Tentang Pesiapan

Kalau kamu sepertiku, kebanyakan anak Indonesia, maka bisa dipastikan tujuan hidupmu satu; berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Ah ya, beserta berbakti pada orang tua, bermanfaat bagi sekitar, dan segala kata-kata serupa penuh makna lainnya. Entah ini pengaruh budaya atau memang penanaman nilai dari pendidikan kecil kita dulu. Setidaknya itu jawaban semua orang yang pernah saya dengar saat kuliah dulu.

Omong kosong. Bohong. Baca lebih lanjut

NPC di Muka Bumi

Non-Playable Character, any character that is not controlled by a player.

sejujurnya aku bingung harus memulai tulisan ini dari mana. ada banyak awal di kepala yang sintesanya sesuai dengan tujuan tulisan ini. karena itu, lebih baik kutuliskan saja beberapa sekalian. maka sebelumnya, mohon bersabar jika tulisannya kurang ramah untuk dibaca.

mari kita mulai dengan sebungkus lotek. suatu waktu di tingkat dua, seorang teman seasrama membeli lotek untuk makan bersama. katanya, lotek di warung ini pasti enak. soalnya si penjual sudah berjualan lotek sejak si bapak yang aku lupa namanya masih jadi mahasiswa. saat itu, si bapak sedang menjadi menteri. sekian puluh tahun, dagangan yang sama, lokasi yang sama, warung kecil yang sama.

kita mulai lagi dengan awal yang berbeda. kali ini, dari sebuah cerita dari beberapa teman di waktu yang berbeda. inti kesimpulannya, kebanyakan manusia salah didik dari awal, sehingga ia tidak siap. karena ketidaksiapannya, ia gagal mewujudkan citanya atau bahkan tidak berani mencitakan hal yang lebih besar, apalagi menjalaninya. karena itu, mari kita nantinya saat kita jadi orang tua, didiklah anak dengan sebaik-baiknya.

kemudian seorang kawan berkomentar “hmph, memang menitipkan mimpi itu lebih mudah daripada menjalankannya!” Baca lebih lanjut

Terima Kasih

“Cara belajar terbaik adalah dengan mengajar”

Termasuk dalam kehidupan. Tiga minggu menemani adek-adek yang baru lulus sma mempersiapkan diri menghadapi sbmptn, mengajariku banyak tentang kehidupan. Mungkin lebih tepatnya, menggali kembali kebijaksanaan yang pernah diajarkan yang tertimbun dalam rutinitas kehidupan. Ada, tak hilang, tapi kadang terlupakan. Baca lebih lanjut

Koin Untuk Australia! Karakter, kultur dan Marwah Bangsa Aceh…

foto dari covesia.com, dari @arizalkatiri

Kisah yang disampaikan oleh bang Alex Hidayat ini barangkali bisa mewakili wajah Aceh secara keseluruhan:

Beberapa kolega, kamerad, karib kerabat, 1-2 hari ini bertanya agak menggugat, perihal gonjang-ganjing galang koin sebagai reaksi statemen perdana menteri sebelah.

“Kenapa reaktif? Ngapain sih emosional begitu?”
Atau,
“Apa sebab ditanggapi serius, bro? Buat apa?”
Atau,
“Biasa aja lah. Jangan lebay. Gitu aja kok repot™”.
Nah, biar kucoba repot-repot menjawab gugatan tanya, yang sebenarnya tak repot kali jika mau repot-repot mengidentifikasi salah satu karakter, kultur, sejarah, dari sekian anak bangsa di republik ini.

Mari kuceritakan engkau satu peristiwa masa silam. Saat aku masih kecil. Di daerahku.

Ada dua pihak keluarga bertikai soal beberapa hektar tanah. Pertikaian itu konon sudah lama. Sejak aku masih menganggap perosotan dan papan jungkat-jungkit di Taman Kanak-kanak adalah pertanda sorga itu ada.
Kasus itu, saat aku sudah di bangku SD, makin memanas. Kedua pihak mengklaim sebagai ahli waris yang sah dari sekian hektar tanah. Akta jual-beli yang dipegang oleh satu pihak tidak sah sama sekali. Ibarat kompor dipanjangkan dan ditambah sumbu, api pertikaian makin menyala, makin seru. Musyawarah kekeluargaan tak mempan. Pihak-pihak adat pun angkat tangan. Tak ada jalan, selain naik perkara ke pengadilan, sebelum nanti berujung bacok-bacokan.

Tapi kasus itu padam begitu saja. Tak ada berkas pernah naik ke pengadilan. Seperti kompor meledak ditimpa goni basah, kasus itu menguap dalam angin sejarah.

Apa yang menyebabkan kasus itu kemudian selesai begitu saja?
Selembar kain kafan.

Baca lebih lanjut

Anak nakal itu, ada! (1)

pernahkah kamu bertanya,

banyak yang mengatakan “anak nakal itu tidak ada, nakal itu hanya masalah cara pandang saja”, tapi kenapa kejahatan anak dan/atau remaja kian marak?

jangan melarang anak, biarkan anak belajar sendiri dari konsekuensi, tapi kenapa rebellion atau pembangkangan semakin terjadi?

pernahkan berpikir,

pola pengajaran guru semakin menarik, tapi adab terhadap guru semakin luntur.

guru tidak diperkenankan menghukum, tapi bullying semakin menakutkan. Baca lebih lanjut

entah di mana salahnya negara kita

kita diajarkan untuk tidak menyebarkan keburukan orang lain, dan itu adalah hal yang benar dan baik. satu-satunya alasan menyebarkan keburukan dengan menyebutkan pelakunya, adalah ketika bersaksi di hadapan hakim, sang penentu keputusan.

dalam sistem pemilu sekarang ini, pengambil keputusan adalah rakyat, sehingga tiap rakyat harus tahu baik/buruknya orang-orang yang akan dipilihnya untuk dapat memutuskan sebijak mungkin. sayangnya, karena tiap rakyat harus tahu, maka tersebarlah kebaikan/keburukan tiap calon ini di hadapan rakyat, sehingga terciptalah rakyat yang biasa membahas keburukan orang lain, yaitu calon-calon tadi.

idealnya, peran berita ini diambil oleh media yang diharuskan untuk meliput kedua sisi. namun, diakui atau tidak, situasi sekarang tidak seideal yang diinginkan. kenyataannya, media dimiliki/ditunggangi yang punya kepentingan, sehingga memilah-milah berita mana yang disampaikan, mana yang ditahan. alhasil, terciptalah calon-calon yang berusaha menguasai media untuk menutupi kejahatannya, dan calon-calon yang meneriak-neriakkan kebaikannya yang ditutupi/tidak diketahui media.