Cerpen: Sang Bujang (1)

..seperti deburan ombak ceriakan pantai, seperti itulah kuinginkan..

***
Langit masih gulita ketika senandung azan subuh berkumandang lewat pengeras suara meunasah/surau yang hanya seratus meter dari rumahku. Aku masih sangat familiar dengan suara muazzin itu. Suara yang hampir sepuluh
tahun selalu setia membangunkan kami untuk sholat subuh berjamaah. Muhammad Maskur nama aslinya. Namun sejak piala AFC 2010 atas permintaannya sendiri kami memanggilnya Markus, merujuk ke kiper timnas saat itu. Bang Maskur berkulit putih, hidung mancung, tinggi dan kini perutnya terlihat sedikit ‘berisi’. Kutaksir umurnya sekitar 32 atau 33
tahun.

Pajan kawoe dari Jawa gam?” Sapa Bang Maskur melihatku di meunasah. Maksudnya adalah kapan
aku pulang dari Jakarta. ‘Gam‘ adalah nama panggilan untuk anak lelaki di Aceh, di waktu yang sama ia juga singkatan dari Gerakan Aceh Merdeka. Meskipun aku bukan anak-anak lagi, Bang Maskur tetap memanggilku ‘Gam‘,
baginya, mungkin aku masihlah bocah kecil yang merengek-rengek minta jajan padanya.
Kuceritakan padanya bahwa aku baru sampai tadi malam.

“Kalau begitu, kau harus jadi imam subuh ini” kata Bang Maskur sambil menuju pengeras suara untuk
melantunkan iqamat. Baca lebih lanjut

Iklan

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

“Mamak jangan panjang was-was. Pepatah orang Mengkasar sudah cukup; anak laki-laki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang. Kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan laar robek, itu lebih mulia dari pada membalik haluan pulang.” Baca lebih lanjut

Robohnya Surau Kami

‘…..kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. dan engkau lebih suka berkelahi antar kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri kaya raya, tapi kau malas. kalu lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. sedang Aku menyuruh engkau semua beramal di samping beribadat. bagaimana kau bisa beramal kalau kau miskin. engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahKu saja. Tidak…..”

“…. sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang percaya, maka kini si ayah yang menipu, si anak yang percaya. …”

“Buaya itu, Hasibuan, bukan jantan saja jenisnya. mengerti kau. siapa tahu, barangkali dia sedang mengakalimu. sedang memikatmu supaya kau kawani dia. ….”

“Hm. sekarang kau baru pandai berkata tentang kebenaran Tuhan. Kenapa? karena kau hendak menyembunyikan kesalahan perbuatanmu semata. karena kau hendak mengelakkan akibat perbuatanmu yang salah dulu. Kau pikir, dapakah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung resiko dari kesalahan yang telah kau lakukan sendiri?”

kutipan cerpen oleh A. A. Navis di buku kumpulan cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami, sesuai judul salah satu cepen di dalamnya. ada banyak hikmah yang membuka pikiran di tiap cerpennya, jika tidak di tiap lebarnya. belum lagi bahasa sastra orang tempo dulu, yang lebih dekat dengan melayu daripada logat ibukota, menjadi hiburan tersendiri yang membuat tetap betah membaca.

Menyikapi perbedaan fiqih

bismillah.. berikut sajian kultwit dari ustadz salim a. fillah perihal menyikapi perbedaan fiqih, termasuk perbedaan hilal dan tarawih di bulan ramadhan:

1) Ada Shalih(in+at) yang bertanya; adakah dibenarkan bersikap ‘amal yang berbeda dengan ilmu yang difahami & fikih yang diyakini? ‎#fqh

2) Selain cerita masyhur tentang Ibn Mas’ud & ‘Utsman RadhiyaLlahu ‘Anhuma yang kami singgung dalam tagar ‎#hll, izinkan kami berkisah. #fqh

3) Imam Ahmad ibn Hanbal dalam suatu pendapat menyatakan bahwa orang yang keluar darah mengalir, maka wudhu’nya dihukumi batal. #fqh

4) Lalu ada yang bertanya pada beliau, “Apakah kau mau bermakmum di belakang Imam yang mimisan (keluar darah dari hidung) saat shalat? #fqh

5) Maka beliau menjawab, “SubhanaLlah; bagaimana mungkin aku tidak mau shalat di belakang Imam Malik, Sufyan Ats Tsaury, & Al Auza’i?” #fqh

 Baca lebih lanjut

ikhlas, benarkah hanya cinta?

postingan kali ini didasari dari khutbah jumat lalu di mesjid salman ITB. seperti biasa, saya tidak kenal siapa yang menceramah dan track record-nya. yang menarik dari ceramah kali ini, adalah sebagian dari isinya, yang sangat mengganggu saya.

dikatakan bahwa ihlas itu, menurut ulama sufi, bertingkat-tingkat menjadi beribadah karena takut, harap, dan cinta. nah, cinta inilah yang dikatakan ikhlas tertinggi. bahkan, sebagian sufi berpendapat tidak dikatakan ikhlas jika beribadah melainkan karena didasari rasa cinta kepada Allah subhana wa ta’ala.

masih menurut beliau, ulama fiqih tidak setuju akan pendapat ini, mereka (ulama fiqih) memakruhkan pandangan ikhlas seperti ini.  sayangnya, kesemua argumen di atas tidak disebutkan sumber-sumber yang menguatkan, dan beliau menyambung ke topik lain.

namun, masih ada yang mengganjal di hati kecil ini. suatu tempat di memori, terus memberontak mengganggu pikiran, meminta perhatian. bunyinya, “benarkah seperti itu? kau tahu kau pernah membaca tidaklah begitu, disertai dengan sumber yang menguatkan”. tidak perlu lama, segera teringat di mana. namun yang lama, adalah mencari bukunya lagi. beruntung seorang sahabat memilikinya.
Baca lebih lanjut

kutipan buku: Jalan Cinta Para Pejuang

hhmm,, bulan ini abangku ngirimin cd installer mac os x 10.6 (pamer euy!). bersamaan dengan itu ada juga dikirim buku karya Salim A. Fillah; Jalan Cinta Sang Pejuang. yah,, ngeliat judul ini banyak kawan yang nyangka kalo ini adalah novel romantis. parah kali ga nyambungnya. jadi, sebelum dikutip, aku mau kasih tau dulu kalo ini bukan novel dan cinta ini adalah cinta kepada Allah. dan aku sangat suka buku ini karena pola pikirnya yang pragmatis dan benar-benar cocok untuk bahan renungan.  ok, langsung aja ke kutipannya! Baca lebih lanjut