Pengalaman Pertama Shalat Berdiri di kereta Api, Ternyata Bisa!

Jumat sore kemarini merupakan pertama kalinya aku berpetualang menuju Kota Surabaya, kotanya hiu dan buaya. kereta api yang kugunakan namanya Mutiara Selatan, berangkat 15.45 dari Stasiun Bandung. Karena macet, aku baru sampai di stasiun 15.30, dan langsung terburu-buru naik kereta api tersebut.

Sebelum-sebelumnya, aku paling jauh naik kereta api Bandung-Yogyakarta, yang waktunya sedemikian serupa sehinga tidak butuh shalat di kereta kalau menjamak shalat di awal ataupun di akhir. sementara, perjalanan kali ini mengharuskanku setidaknya shalat maghrib, isya, dan subuh di kereta, ditambah lagi shalat ashar karena aku tidak sempat shalat sebelum naik kereta. Baca lebih lanjut

Iklan

Robohnya Surau Kami

‘…..kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. dan engkau lebih suka berkelahi antar kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri kaya raya, tapi kau malas. kalu lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. sedang Aku menyuruh engkau semua beramal di samping beribadat. bagaimana kau bisa beramal kalau kau miskin. engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahKu saja. Tidak…..”

“…. sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang percaya, maka kini si ayah yang menipu, si anak yang percaya. …”

“Buaya itu, Hasibuan, bukan jantan saja jenisnya. mengerti kau. siapa tahu, barangkali dia sedang mengakalimu. sedang memikatmu supaya kau kawani dia. ….”

“Hm. sekarang kau baru pandai berkata tentang kebenaran Tuhan. Kenapa? karena kau hendak menyembunyikan kesalahan perbuatanmu semata. karena kau hendak mengelakkan akibat perbuatanmu yang salah dulu. Kau pikir, dapakah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung resiko dari kesalahan yang telah kau lakukan sendiri?”

kutipan cerpen oleh A. A. Navis di buku kumpulan cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami, sesuai judul salah satu cepen di dalamnya. ada banyak hikmah yang membuka pikiran di tiap cerpennya, jika tidak di tiap lebarnya. belum lagi bahasa sastra orang tempo dulu, yang lebih dekat dengan melayu daripada logat ibukota, menjadi hiburan tersendiri yang membuat tetap betah membaca.

Islam Tidak Perlu Dibela!, ?

Alkisah, di suatu malam seperti biasa, tersebutlah seorang anak manusia, sebut saja fatah, yang membaca sebuah cerpen yang disebarkan oleh temannya di dunia maya. inti cerpen itu adalah, ‘pilpres ga ada kaitannya sama kejayaan kemenangan islam. kalaupun ada, Islam tidak perlu dibela, cukup Allah yang membela!’ katanya. ‘siapa kamu sok-sokan membela, apa kamu ragukan kekuasaan Allah dalam membela!? apa kamu ragukan janji Allah bahwa Islam pasti berjaya!? mending kamu urusi saja shalatmu, sudah benar apa belum. juga ibadah-ibadahmu’ katanya lagi. tentu tidak dengan nada demikian, tapi kira-kira itulah nada tersirat yang disampaikannya.

bukan, kita tidak akan membahas pilpresnya. topik pilpres memang gurih, renyah, tapi makanan senikmat apapun akan membosankan disajikan berulang kali, dan banyak dari kita sudah muak dengan topik ini. mari kita bahas pernyataan si empunya cerpen.

‘Allah menjanjikan islam pasti berjaya.’

setuju. tidak ada ketidaksetujuan di sini tentunya.

‘Allah Maha Kuasa, tidak perlulah Islam kita bela, cukup Allah yang membela.’

terlepas benar-tidaknya, timbul pertanyaan; ketika suatu saat islam berjaya, di mana kah posisi kita? apa kita termasuk orang yang memperjuangkannya, atau pun sekedar bertepuk tangan? semalas apa kita, berpangku tangan hanya bertepuk tangan dengan mengatakan ‘ah, islam sudah pasti menang’? apa bedanya dengan Bani Israil yang berkata “pergilah kamu Musa berperang dengan Tuhanmu, kami akan menunggu di sini”. atau dengan kata lain ‘hei, pergi sana perang sendiri (berdua dengan Tuhanmu. nanti kalo udah menang panggil ya’. Baca lebih lanjut

terjemah bebas Al-Fatihah bersyair

Berikut adalah kutipan terjemahan Al-Fatihah di terjemahan bebas berbahasa Aceh oleh Teungku Mahyiddin Yusuf tahun 1955. Versi asli menggunakan aksara Arab Jawi, versi aksara latin diterbitkan di tahun 1995 di masa Tarmizi Taher.

Penerjemahnya tampaknya membuat terjemahannya bersajak seperti syair dan tampaknya juga mengubah susunan kata dan menambahkan untuk memperjelas makna.

1. 
Ngon Nama Allah lon peuphon surat

Tuhan Hadharat nyang Maha Murah

Tuhanku sidroe geumaseh that-that

Donya akhirat rahmat Neulimpah Baca lebih lanjut

wawancara seorang kawan

bismillaah..

jadi ceritanya, atas titipan seorang kakak yang sedang mempersiapkan diri agar kelak menjadi ibu dari anak-anak yang shalih, maka beberapa hari lalu aku mewawancara seorang kenalan yang menjadi imam tarawih di mesjid salman dan cukup terkenal karena bacaannya yang memanjakan telinga. sebut saja namanya muslim, bukan nama sebenarnya.

sebelum masuk ke inti cerita, aku mau berbagi dulu kalau si kakak yang minta tolong ini bahkan belum menikah, tapi sudah berusaha mempersiapkan diri di jauh hari. salah satu contoh yang menunjukkan kesiapan dan kedewasaan berpikir, juga sangat patut dicontoh menurutku.

pertanyaannya utamanya: bagaimana orang tuanya membesarkannya hingga besarnya jadi seperti sekarang (shalih, bacaan bagus, dll), yang dirinci menjadi berbagai pertanyaan. berikut jawabannya: Baca lebih lanjut

Menyikapi perbedaan fiqih

bismillah.. berikut sajian kultwit dari ustadz salim a. fillah perihal menyikapi perbedaan fiqih, termasuk perbedaan hilal dan tarawih di bulan ramadhan:

1) Ada Shalih(in+at) yang bertanya; adakah dibenarkan bersikap ‘amal yang berbeda dengan ilmu yang difahami & fikih yang diyakini? ‎#fqh

2) Selain cerita masyhur tentang Ibn Mas’ud & ‘Utsman RadhiyaLlahu ‘Anhuma yang kami singgung dalam tagar ‎#hll, izinkan kami berkisah. #fqh

3) Imam Ahmad ibn Hanbal dalam suatu pendapat menyatakan bahwa orang yang keluar darah mengalir, maka wudhu’nya dihukumi batal. #fqh

4) Lalu ada yang bertanya pada beliau, “Apakah kau mau bermakmum di belakang Imam yang mimisan (keluar darah dari hidung) saat shalat? #fqh

5) Maka beliau menjawab, “SubhanaLlah; bagaimana mungkin aku tidak mau shalat di belakang Imam Malik, Sufyan Ats Tsaury, & Al Auza’i?” #fqh

 Baca lebih lanjut

Ayah Lumpuh Dek

ulee lheue, banda aceh

minggu, 30 juni 2013

di sela-sela cuti liburan ke sabang dan mengurus kepastian beasiswa dari pemda Aceh, aku menyempatkan diri berkunjung ke ulee lheue, ke tempat ayah. keluargaku memang terbilang unik dalam memanggil keluarga besar. suami almarhumah bibi ku, dipanggil “ayah”, karena memang mereka dipanggil “ayah” dan “bunda” oleh anak-anaknya. sementara yang lain dipanggil dengan istilah aceh seperti “ayah cut”, “abu cut”, atau istilah-istilah lainnya, “apak”, “ayah adek”, dll. orang tuaku sendiri dipanggil “papa” dan “mama” sama sepupu-sepupuku.

keluarga ayah adalah salah satu saudara favoritku dari keluarga papa dari dulu.waktu kecil, asal ke banda aceh, walau menginap di rumah mujit (nenek) yang sebenarnya ga jauh dengan rumah ayah, aku pasti menyempatkan nginap di sana dua-tiga hari. sosok ayah yang terlihat tinggi-besar olehku yang masih SD, dan posisinya sebagai salah satu imam mesjid ulee lheue, salah satu mesjid tertua di banda aceh, semakin menambah wibawa yang terasa darinya. Baca lebih lanjut