Bukan refleksi 70 tahun kemerdekaan

bukan, ini sama sekali bukan tulisan perayaan kemerdekaan, apalagi tulisan para pesimis yang merasa indonesia tidak mengalami kemajuan, atau bahkan di ambang kehancuran. ini juga bukan tulisan harapan-harapan kemerdekaan, karena seperti sudah terlalu banyak harapan dari 250 juta penduduk yang belum diwujudkan. ini adalah tulisan refleksi hari ini, betapa kita sangat mudah larut dalam momen kebahagiaan tanpa benar-benar tahu perjuangan yang dilakukan.

dari kemarin, banyak berseliweran tulisan berkaitan kemerdekaan di berbagai laman sosial maupun berita. ada harapan, penyesalan, bahkan cacian. dari kesemuanya itu, timbul satu pertanyaan:

berapa banyak dari generasi ini yang tahu tentang kemerdekaan? tentang perjuangan para tokoh dan pahlawan?

Baca lebih lanjut

Koin Untuk Australia! Karakter, kultur dan Marwah Bangsa Aceh…

foto dari covesia.com, dari @arizalkatiri

Kisah yang disampaikan oleh bang Alex Hidayat ini barangkali bisa mewakili wajah Aceh secara keseluruhan:

Beberapa kolega, kamerad, karib kerabat, 1-2 hari ini bertanya agak menggugat, perihal gonjang-ganjing galang koin sebagai reaksi statemen perdana menteri sebelah.

“Kenapa reaktif? Ngapain sih emosional begitu?”
Atau,
“Apa sebab ditanggapi serius, bro? Buat apa?”
Atau,
“Biasa aja lah. Jangan lebay. Gitu aja kok repot™”.
Nah, biar kucoba repot-repot menjawab gugatan tanya, yang sebenarnya tak repot kali jika mau repot-repot mengidentifikasi salah satu karakter, kultur, sejarah, dari sekian anak bangsa di republik ini.

Mari kuceritakan engkau satu peristiwa masa silam. Saat aku masih kecil. Di daerahku.

Ada dua pihak keluarga bertikai soal beberapa hektar tanah. Pertikaian itu konon sudah lama. Sejak aku masih menganggap perosotan dan papan jungkat-jungkit di Taman Kanak-kanak adalah pertanda sorga itu ada.
Kasus itu, saat aku sudah di bangku SD, makin memanas. Kedua pihak mengklaim sebagai ahli waris yang sah dari sekian hektar tanah. Akta jual-beli yang dipegang oleh satu pihak tidak sah sama sekali. Ibarat kompor dipanjangkan dan ditambah sumbu, api pertikaian makin menyala, makin seru. Musyawarah kekeluargaan tak mempan. Pihak-pihak adat pun angkat tangan. Tak ada jalan, selain naik perkara ke pengadilan, sebelum nanti berujung bacok-bacokan.

Tapi kasus itu padam begitu saja. Tak ada berkas pernah naik ke pengadilan. Seperti kompor meledak ditimpa goni basah, kasus itu menguap dalam angin sejarah.

Apa yang menyebabkan kasus itu kemudian selesai begitu saja?
Selembar kain kafan.

Baca lebih lanjut

Robohnya Surau Kami

‘…..kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. dan engkau lebih suka berkelahi antar kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri kaya raya, tapi kau malas. kalu lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. sedang Aku menyuruh engkau semua beramal di samping beribadat. bagaimana kau bisa beramal kalau kau miskin. engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahKu saja. Tidak…..”

“…. sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang percaya, maka kini si ayah yang menipu, si anak yang percaya. …”

“Buaya itu, Hasibuan, bukan jantan saja jenisnya. mengerti kau. siapa tahu, barangkali dia sedang mengakalimu. sedang memikatmu supaya kau kawani dia. ….”

“Hm. sekarang kau baru pandai berkata tentang kebenaran Tuhan. Kenapa? karena kau hendak menyembunyikan kesalahan perbuatanmu semata. karena kau hendak mengelakkan akibat perbuatanmu yang salah dulu. Kau pikir, dapakah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung resiko dari kesalahan yang telah kau lakukan sendiri?”

kutipan cerpen oleh A. A. Navis di buku kumpulan cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami, sesuai judul salah satu cepen di dalamnya. ada banyak hikmah yang membuka pikiran di tiap cerpennya, jika tidak di tiap lebarnya. belum lagi bahasa sastra orang tempo dulu, yang lebih dekat dengan melayu daripada logat ibukota, menjadi hiburan tersendiri yang membuat tetap betah membaca.

integritas itu (ternyata) masih ada

jadi ceritanya tadi ke cicukang buat persiapan program “liter of light”-nya @itbinsight. saat bicara dengan pak rw dan salah satu bu rt, ada orang datang nawarin undang makan bareng dengan caleg partai tralalalala berkedok makan bareng bersama forum trilililili di salah satu warung makan mewah di jalan pasteur, sebut saja trololololo.

mantapnya, bu rt dengan mantap menjawab “saya sebagai rt diharuskan netral dan tidak boleh menerima undangan dari partai manapun”. begitu juga pak rw dengan bahasanya sendiri.

ternyata, integritas itu masih ada. walau di perumahan kumuh pinggir rel kereta api sekalipun. walau cuma sekedar undangan makan sekalipun

Indonesiaku

kali ini, aku mau berbagi cerita. ini bukan cerita tentang cinta, bukan juga cita-cita. hanya sebuah cerita kebanyakan remaja kita. tapi juga cerita orang dewasa dan balita di negeri kita, indonesia.

cerita negeri kaya dimana, bayinya minum susu perusahaan eropa. mainan para balita diimpor dari cina. menjelang TK, disney dan kartun jepang menjadi tontonannya. mulai bisa membaca, bacaannya manga. banta berensyah, amat rhah manyang, malin kundang, cerita perwayangan, hanya tersisa di ingatan orang tuanya saja.

menjelang remaja, beda lagi ceritanya. teknologi menjadi kebutuhan primer melebihi nasi, meskipun hanya digunakan untuk buka sosial media dan ber-haha-hihi. hapenya bukan hape biasa, tapi hape pintar buatan korea, atau bermerk amerika meski dimanufaktur di cina.laptopnya juga sama, berbangga-bangga dengan merk cina, jepang, korea, atau amerika, padahal seringnya cuma dipake nge-game, itu juga buatan orang di luar sana. Baca lebih lanjut

tulinya pemangku kebijakan bukan alasan untuk meneriakkan kebencian

di satu sisi, islam mengajarkan untuk menasehati—terutama pemimpin— secara langsung, bukan di tempat ramai, agar hatinya tidak tersinggung. kalaupun ia tidak melaksanakan, maka kewajiban kita menasehati sudah selesai. jika tidak mampu, lebih baik diam.

di sisi lain, islam mewajibkan menaati pemimpin, selalim apapun ia selama ia masih shalat, dan pemimpin indonesia menerapkan sistem demokrasi. demokrasi berarti rakyat boleh menasehati maupun mengkritik pemimpin secara terang-terangan. semua orang diberi hak menyampaikan pendapatnya. yang sering dilupakan, semua orang juga harus mempertanggungjawabkan kata-katanya. Baca lebih lanjut