Setahun PK 32

Tidak ada negara seunik Indonesia. ribuan pulau, ribuan suku, ribuan budaya. tapi musiknya dari korea, tontonannya amerika, dan bacaannya manga. negara yang katanya gemah ripah loh jinawi, namun kata rakyatnya tanah kusewa, air kubeli. negara yang terkenal karena keramahan dan sopan-santunnya, namun juga terkenal karena korupsinya. negara yang diagung-agungkan sumber daya alamnya, namun dalam kondisi darurat energi. negara agararis yang, lucunya, menjadi pengimpor banyak bahan pangan. negara meritim yang garam pun tak bisa penuhi sendiri. garam saudara-saudara! bahkan garam!

tapi memang cinta itu buta. kita tahu negara ini buruk rupa, tapi tidak menghalangi kita untuk cinta. dalam hati, indonesia tetaplah tanah air kita. dan benarlah kata Hamka,

“Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.”

ingatlah! sadarilah! negara kita buruk rupa, tapi kita bukan yang paling menderita! ingatlah jerman, ingatlah jepang, ingatlah korea! sekarang mereka jaya, namun ada masanya mereka tak berdaya! sekarang mereka raksasa, tapi paska perang dunia kedua mereka hina! dan camkanlah, begitu juga Indonesia!

hari ini kita di berada di sini, untuk mempersiapkan petualangan kita. bukan petualangan biasa, namun petualangan demi membangun bangsa. tidak mudah pastinya. pundak kita, bukan menanggung beban biasa, tapi beban 250 juta rakyat Indonesia. namun jangan lupa, persiapan kita juga bukan persiapan biasa, namun persiapan dengan doa dari 250 juta rakyat Indonesia.

berat adalah harga sebuah perjuangan. sakit adalah keniscayaan. putus asa akan berbisik untuk menghentikan pergerakan.

Hamka sang ulama berkata, “Kalau Tuhan tidak menjadikan perhambaan dan perbudakan, tentu tidak akan timbul keinginan hendak mengejar kemerdekaan. Memang kalau tiada kesakitan, orang tidak mempunyai keinginan untuk mengejar kesenangan. Oleh itu tidak keterlaluan jika dikatakan bahawa sakit dan pedih adalah tangga menuju kejayaan.”

setelah ini sebagian kita akan berpisah dengan indonesia, namun bukan karena tidak cinta. kita akan pergi, namun bukan karena benci atau apati. melainkan untuk kembali membangun negeri. karena cinta, adalah perbuatan. kata-kata dan tulisan indah hanyalah bualan belaka.

Indonesia adalah negara kita, dan satu-satunya negara yang kita cinta! ingatlah kata Hatta,

“Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. ia tumbuh dengan perbuatan, dan itu adalah perbuatanku!”
Perbuatan kita, perbuatan garuda prawiramurti!

Mengenang setahun bersama keluarga PK 32 yang sekarang berpencar untuk belajar, dan insya Allah kembali untuk berbakti.

Iklan

Terima Kasih

“Cara belajar terbaik adalah dengan mengajar”

Termasuk dalam kehidupan. Tiga minggu menemani adek-adek yang baru lulus sma mempersiapkan diri menghadapi sbmptn, mengajariku banyak tentang kehidupan. Mungkin lebih tepatnya, menggali kembali kebijaksanaan yang pernah diajarkan yang tertimbun dalam rutinitas kehidupan. Ada, tak hilang, tapi kadang terlupakan. Baca lebih lanjut