Cerpen: Sang Bujang (2/habis)

Ada orang yang merantau ke pulau Jawa atau Malaysia meninggalkan kampung halamannya bertahun-tahun, baik untuk bekerja atau belajar. Dan ketika kembali ke kampung halamannya ia menjadi orang asing (merasa asing lebih tepatnya) dengan kehidupan pedesaan. Ia yang dulu berbicara ceplas-ceplos kini terlihat (memperlihatkan diri) terdidik dengan gaya bicaranya. Kadang, ketika ia berbaur dan berbicara dengan masyarakat ia menyelipkan bahasa-bahasa Indonesia yang gaul atau istilah-istilah dalam bahasa Inggris yang membuat kening orang-orang awam berkerut bahkan ingin muntah. Ini bukan berarti aku tidak setuju dengan gaya bahasa yang santun, misalnya dengan mengganti ‘kee‘ menjadi ‘loen‘ (‘kee‘ adalah bahasa Aceh kurang lebih bermakna seperti ‘Gue‘ dalam bahasa Indonesia, sedangkan ‘loen‘ bisa diartikan dengan ‘Saya‘ yang tentu saja lebih sopan). Tapi bukankah seharusnya kita berbicara dengan orang-orang dengan gaya dan bahasa mereka? Bukankah mereka, orang kampung kita seharusnya berhak untuk mendapatkan sedikit pencerahan dari pengalaman atau pendidikan yang kita dapatkan? Jika iya, kenapa kita berbicara dengan bahasa dan istilah-istilah aneh yang membuat mereka muak mendengarnya? Kenapa kita kadang mengisolasi diri dari mereka seolah mereka sama sekali tidak layak untuk berdiskusi dengan kita?
Baca lebih lanjut

Iklan

Cerpen: Sang Bujang (1)

..seperti deburan ombak ceriakan pantai, seperti itulah kuinginkan..

***
Langit masih gulita ketika senandung azan subuh berkumandang lewat pengeras suara meunasah/surau yang hanya seratus meter dari rumahku. Aku masih sangat familiar dengan suara muazzin itu. Suara yang hampir sepuluh
tahun selalu setia membangunkan kami untuk sholat subuh berjamaah. Muhammad Maskur nama aslinya. Namun sejak piala AFC 2010 atas permintaannya sendiri kami memanggilnya Markus, merujuk ke kiper timnas saat itu. Bang Maskur berkulit putih, hidung mancung, tinggi dan kini perutnya terlihat sedikit ‘berisi’. Kutaksir umurnya sekitar 32 atau 33
tahun.

Pajan kawoe dari Jawa gam?” Sapa Bang Maskur melihatku di meunasah. Maksudnya adalah kapan
aku pulang dari Jakarta. ‘Gam‘ adalah nama panggilan untuk anak lelaki di Aceh, di waktu yang sama ia juga singkatan dari Gerakan Aceh Merdeka. Meskipun aku bukan anak-anak lagi, Bang Maskur tetap memanggilku ‘Gam‘,
baginya, mungkin aku masihlah bocah kecil yang merengek-rengek minta jajan padanya.
Kuceritakan padanya bahwa aku baru sampai tadi malam.

“Kalau begitu, kau harus jadi imam subuh ini” kata Bang Maskur sambil menuju pengeras suara untuk
melantunkan iqamat. Baca lebih lanjut

I

We were walking home after dinner like any other evening, together with the bunch that has stick together during our years in university. Discussing anything; philosophy, history, religions, you name it. Some people think it’s funny how we, engineering graduates, like to discuss these things. Sometimes, we were separated to two or three different topics, discussing in smaller group, like that night.

It was a cold night, marking the beginning of winter. Our breath was blowing white fog as if we were smoking.

“I think I am in love.” I said suddenly, without looking to anyone. It came out of nowhere, I bet you didn’t even know how to react. Hell, you didn’t even sure if you heard you correctly back then. Baca lebih lanjut

Jeulamee/Mas Kawin

Cerpen ini saya terjemahkan dari sebuah cerpen bahasa Aceh, Jeulamee, yang ditulis oleh Aris Munandar.

catatan singkat:

mayam/manyam= ~3 gram (satuan untuk emas)
Mak Linto Baro= ibu pengantin wanita (IPW), walau di cerpen ini sebenarnya perempuannya belum menikah sih.
calon linto baro= calon pengantin pria (CPP).

Umur 18 tahun

Mak Dara Baro : Nyak Gam, jeulame si Adek 30 manyam, tamah asoe kama lom ngon peng hangoh.    Peu keuh droeneuh ek siap Nyak Gam? Baroe na cit ureung jak lamar si Adek, awak keurija kanto Gubernur, ka PNS, na moto lom, jih sanggoep 30 manyam, tapi hana kamoe teurimoeng ilee, seubab kamoe preh droen, kamoe sayang keu droen.

IPW : nak, mas kawin si adik 30 mayam (~90 gram emas), tambah isi kamar lagi dan uang hangus. apa kamu menyanggupi nak? kemarin ada juga yang melamar si adik, pegawai kantor gubernur, udah PNS, ada mobil lagi, dia sanggup 30 mayam, tapi tidak kami terima dulu, karena kami menunggumu, kami sayang kamu. Baca lebih lanjut

Di Sepanjang Jalan

Suara motorku berderu pelan, menyusuri belokan-belokan aspal. Coklat kemerah-merahan, tertutupi daun-daun yang bertaburan dari pohon di pinggir jalan. “Pa, daunnya pohon jati hebat ya, mau berkorban menggugurkan dirinya sendiri biar pohonnya tetap hidup” celoteh si kecil sembari kubonceng jalan-jalan keliling komplek perumahan dengan astuti merah, alias astrea tujuh tiga.

Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya. Ah, si kecil, kau begitu dewasa untuk umurmu yang baru 4 tahun, dan aku bangga akan itu. Baca lebih lanjut

Balada Berburu Ta’jil

“Duh, masih ada ga ya?” gerutuku dalam hati sambil meliuk-liuk dengan sepeda tercinta menghindari kemacetan. Alhamdulillah akhirnya nyampe juga. Kugembok sepedaku di tengah puluhan motor di halaman masjid itu. Jam di hape masih menunjukkan 17.30 WIB. Ternyata masih lumayan lama juga waktu berbuka.Tanpa berwudhu, karena memang belum batal, langsung kulangkahkan kakiku ke dalam masjid. Widih…., ternyata udah lumayan penuh juga. Banyak orang yang bercakap-cakap di dalam masjid sambil memegang seporsi ta’jil yang dibagikan di tangan masing-masing. Beberapa ada yang membaca Qur’an di shaf depan sambil menunggu buka. Mataku masih mencari-cari orang-orang yang membagikan ta’jil. Ah, ternyata di sana. Kakiku bergegas mengikuti antrian. Baca lebih lanjut

ragamu bukan lagi milikmu

“bangun!” teriaknya.

“hah, apa?” jawabku dengan mata yang berat. ngantuk.

tak jauh dari pinggir kasurku, berdiri seorang nenek renta. napasnya ngos-ngosan, rambutnya yang tipis digerus usia acak-acakan, begitu juga baju lusuhnya. kakinya gemetaran beuraha berdiri walau dibantu sebatang tongkat kayu yang sama tuanya. walau samar-samar masih terlihat bahwa ia pasti wanita yang menawan ketika masih muda. samar, sangat samar.

kelihatan jelas ia diambang kematian, hanya tinggal menunggu hitungan untuk mengakhiri penderitaan yang terlihat jelas pada dirinya. tapi matanya, matanya tajam menatapku.

“bangun! bangkit!” teriak si nenek tua itu. melengkingan, menggetarkan. Baca lebih lanjut