Bukan refleksi 70 tahun kemerdekaan

bukan, ini sama sekali bukan tulisan perayaan kemerdekaan, apalagi tulisan para pesimis yang merasa indonesia tidak mengalami kemajuan, atau bahkan di ambang kehancuran. ini juga bukan tulisan harapan-harapan kemerdekaan, karena seperti sudah terlalu banyak harapan dari 250 juta penduduk yang belum diwujudkan. ini adalah tulisan refleksi hari ini, betapa kita sangat mudah larut dalam momen kebahagiaan tanpa benar-benar tahu perjuangan yang dilakukan.

dari kemarin, banyak berseliweran tulisan berkaitan kemerdekaan di berbagai laman sosial maupun berita. ada harapan, penyesalan, bahkan cacian. dari kesemuanya itu, timbul satu pertanyaan:

berapa banyak dari generasi ini yang tahu tentang kemerdekaan? tentang perjuangan para tokoh dan pahlawan?

Baca lebih lanjut

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

“Mamak jangan panjang was-was. Pepatah orang Mengkasar sudah cukup; anak laki-laki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang. Kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan laar robek, itu lebih mulia dari pada membalik haluan pulang.” Baca lebih lanjut

Robohnya Surau Kami

‘…..kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. dan engkau lebih suka berkelahi antar kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri kaya raya, tapi kau malas. kalu lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. sedang Aku menyuruh engkau semua beramal di samping beribadat. bagaimana kau bisa beramal kalau kau miskin. engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahKu saja. Tidak…..”

“…. sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang percaya, maka kini si ayah yang menipu, si anak yang percaya. …”

“Buaya itu, Hasibuan, bukan jantan saja jenisnya. mengerti kau. siapa tahu, barangkali dia sedang mengakalimu. sedang memikatmu supaya kau kawani dia. ….”

“Hm. sekarang kau baru pandai berkata tentang kebenaran Tuhan. Kenapa? karena kau hendak menyembunyikan kesalahan perbuatanmu semata. karena kau hendak mengelakkan akibat perbuatanmu yang salah dulu. Kau pikir, dapakah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung resiko dari kesalahan yang telah kau lakukan sendiri?”

kutipan cerpen oleh A. A. Navis di buku kumpulan cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami, sesuai judul salah satu cepen di dalamnya. ada banyak hikmah yang membuka pikiran di tiap cerpennya, jika tidak di tiap lebarnya. belum lagi bahasa sastra orang tempo dulu, yang lebih dekat dengan melayu daripada logat ibukota, menjadi hiburan tersendiri yang membuat tetap betah membaca.

sehabis baca “totto-chan: gadis cilik di jendela”

halo dunia maya! lama tak bersua melalui tulisan di blog sini, maafkan jika ada yang menunggu-nunggu tulisan selama ini *halah. selain karena disibukkan Tugas Akhir, yang Alhamdulillah udah beres, susah rasanya menyemangati jari untuk merangkai kata. ya, beberapa bulan ini aku belajar lebih banyak diam dan memperhatikan, walau masih cerewet juga di ask.fm.

oke, kembali ke topik judul tulisan ini; novel non-fiksi tentang pendidikan seorang anak “nakal”, yaitu pengarangnya, di sekolah dasar tomoe, Jepang, sekitar tahun 1940an. novel ini sendiri terbit di taun 80an, dan menjadi best seller di berbagai negara. sudah lama terbit di Indonesia, namun masih sering dicetak ulang. ya, tulisan yang bagus akan seakan-akan abadi.

menurutku, ini buku yang wajib dibaca oleh para pendidik dan calon pendidik, baik formal maupun non-formal. terutama untuk mendidik anak kecil. karena semua orang normalnya akan menjadi orang tua yang mendidik anaknya, maka buku ini sangat baik dibaca semua orang. Baca lebih lanjut