Terjemahan Lirik Aneuk Yatim

Jinoe loen kisah saboh riwayat
Sekarang kukisahkan sebuah riwayat

Kisah baroe that… baro that di Aceh Raya
kisah [yang] baru sekali [terjadi] di Aceh Raya Baca lebih lanjut

Iklan

Cerpen: Sang Bujang (2/habis)

Ada orang yang merantau ke pulau Jawa atau Malaysia meninggalkan kampung halamannya bertahun-tahun, baik untuk bekerja atau belajar. Dan ketika kembali ke kampung halamannya ia menjadi orang asing (merasa asing lebih tepatnya) dengan kehidupan pedesaan. Ia yang dulu berbicara ceplas-ceplos kini terlihat (memperlihatkan diri) terdidik dengan gaya bicaranya. Kadang, ketika ia berbaur dan berbicara dengan masyarakat ia menyelipkan bahasa-bahasa Indonesia yang gaul atau istilah-istilah dalam bahasa Inggris yang membuat kening orang-orang awam berkerut bahkan ingin muntah. Ini bukan berarti aku tidak setuju dengan gaya bahasa yang santun, misalnya dengan mengganti ‘kee‘ menjadi ‘loen‘ (‘kee‘ adalah bahasa Aceh kurang lebih bermakna seperti ‘Gue‘ dalam bahasa Indonesia, sedangkan ‘loen‘ bisa diartikan dengan ‘Saya‘ yang tentu saja lebih sopan). Tapi bukankah seharusnya kita berbicara dengan orang-orang dengan gaya dan bahasa mereka? Bukankah mereka, orang kampung kita seharusnya berhak untuk mendapatkan sedikit pencerahan dari pengalaman atau pendidikan yang kita dapatkan? Jika iya, kenapa kita berbicara dengan bahasa dan istilah-istilah aneh yang membuat mereka muak mendengarnya? Kenapa kita kadang mengisolasi diri dari mereka seolah mereka sama sekali tidak layak untuk berdiskusi dengan kita?
Baca lebih lanjut

Koin Untuk Australia! Karakter, kultur dan Marwah Bangsa Aceh…

foto dari covesia.com, dari @arizalkatiri

Kisah yang disampaikan oleh bang Alex Hidayat ini barangkali bisa mewakili wajah Aceh secara keseluruhan:

Beberapa kolega, kamerad, karib kerabat, 1-2 hari ini bertanya agak menggugat, perihal gonjang-ganjing galang koin sebagai reaksi statemen perdana menteri sebelah.

“Kenapa reaktif? Ngapain sih emosional begitu?”
Atau,
“Apa sebab ditanggapi serius, bro? Buat apa?”
Atau,
“Biasa aja lah. Jangan lebay. Gitu aja kok repot™”.
Nah, biar kucoba repot-repot menjawab gugatan tanya, yang sebenarnya tak repot kali jika mau repot-repot mengidentifikasi salah satu karakter, kultur, sejarah, dari sekian anak bangsa di republik ini.

Mari kuceritakan engkau satu peristiwa masa silam. Saat aku masih kecil. Di daerahku.

Ada dua pihak keluarga bertikai soal beberapa hektar tanah. Pertikaian itu konon sudah lama. Sejak aku masih menganggap perosotan dan papan jungkat-jungkit di Taman Kanak-kanak adalah pertanda sorga itu ada.
Kasus itu, saat aku sudah di bangku SD, makin memanas. Kedua pihak mengklaim sebagai ahli waris yang sah dari sekian hektar tanah. Akta jual-beli yang dipegang oleh satu pihak tidak sah sama sekali. Ibarat kompor dipanjangkan dan ditambah sumbu, api pertikaian makin menyala, makin seru. Musyawarah kekeluargaan tak mempan. Pihak-pihak adat pun angkat tangan. Tak ada jalan, selain naik perkara ke pengadilan, sebelum nanti berujung bacok-bacokan.

Tapi kasus itu padam begitu saja. Tak ada berkas pernah naik ke pengadilan. Seperti kompor meledak ditimpa goni basah, kasus itu menguap dalam angin sejarah.

Apa yang menyebabkan kasus itu kemudian selesai begitu saja?
Selembar kain kafan.

Baca lebih lanjut

Aceh tidak tahu terima kasih

kalau ditanya,

apa Bahasa Inggrisnya ‘terima kasih’?

thank you”.

Bahasa Arab-nya?

syukran“.

juga dalam berbagai bahasa lainnya, danke, arigatou, nuhun, dan lain-lain. tapi kalau ditanya, “apa Bahasa Aceh-nya?”

sebagian orang akan menjawab “teurimong geunaseh” atau “teurimong gaseh”. namun benarkah? salah! maksudku, ‘teurimong gaseh’ adalah terjemahan harafiah dari ‘terima kasih’, namun frase teurimong gaseh aslinya tidaklah ada di Bahasa Aceh! unik kan? jauh berbeda dengan bahasa lainnya yang hampir pasti memiliki padanan kata terima kasih dalam bahasanya masing-masing. Baca lebih lanjut

Jeulamee/Mas Kawin

Cerpen ini saya terjemahkan dari sebuah cerpen bahasa Aceh, Jeulamee, yang ditulis oleh Aris Munandar.

catatan singkat:

mayam/manyam= ~3 gram (satuan untuk emas)
Mak Linto Baro= ibu pengantin wanita (IPW), walau di cerpen ini sebenarnya perempuannya belum menikah sih.
calon linto baro= calon pengantin pria (CPP).

Umur 18 tahun

Mak Dara Baro : Nyak Gam, jeulame si Adek 30 manyam, tamah asoe kama lom ngon peng hangoh.    Peu keuh droeneuh ek siap Nyak Gam? Baroe na cit ureung jak lamar si Adek, awak keurija kanto Gubernur, ka PNS, na moto lom, jih sanggoep 30 manyam, tapi hana kamoe teurimoeng ilee, seubab kamoe preh droen, kamoe sayang keu droen.

IPW : nak, mas kawin si adik 30 mayam (~90 gram emas), tambah isi kamar lagi dan uang hangus. apa kamu menyanggupi nak? kemarin ada juga yang melamar si adik, pegawai kantor gubernur, udah PNS, ada mobil lagi, dia sanggup 30 mayam, tapi tidak kami terima dulu, karena kami menunggumu, kami sayang kamu. Baca lebih lanjut

Aceh, bagaimana sebenarnya?

“Aceh itu syariat islam kan?” pertanyaan yang sering ditanyakan kawan-kawan non-aceh ke aku, biasanya dilanjutkan dengan pertanyaan tentang syariat islam dan penerapannya di aceh  seperti hukum cambuk, semua perempuan harus berjilbab, non-muslim perlu berjilbab atau enggak, dsb.

“udah pernah rasa ganja belum tah, di aceh banyak kan?” pertanyaan yang mungkin lebih sering, diikuti dengan candaan aku jadi bandar ganja, cara penanaman, cara penyelundupan, ekspor-impor, dan lain-lain. oke, ini memang sifatnya candaan, tapi tahu nggak? secara psikologi 50% candaan sebenarnya adalah isi hati orang yang mengatakan, terutama untuk hal-hal yang sensitif ditanyakan secara serius, maka ditanyakan sambil bercanda karena ada rasa aman “hanya dianggap sebagai candaan”. 🙂 Baca lebih lanjut

terjemah bebas Al-Fatihah bersyair

Berikut adalah kutipan terjemahan Al-Fatihah di terjemahan bebas berbahasa Aceh oleh Teungku Mahyiddin Yusuf tahun 1955. Versi asli menggunakan aksara Arab Jawi, versi aksara latin diterbitkan di tahun 1995 di masa Tarmizi Taher.

Penerjemahnya tampaknya membuat terjemahannya bersajak seperti syair dan tampaknya juga mengubah susunan kata dan menambahkan untuk memperjelas makna.

1. 
Ngon Nama Allah lon peuphon surat

Tuhan Hadharat nyang Maha Murah

Tuhanku sidroe geumaseh that-that

Donya akhirat rahmat Neulimpah Baca lebih lanjut