ketidak-efisienan pasar dan ketidak-jujuran pelajar

disklaimer: tulisan ini ditulis oleh orang yang bukan ahlinya ekonomi, bukan mahasiswa ekonomi, cuma kebetulan ambil mata kuliah pengenalan sumber daya dan ekonomi lingkungan. itu juga baru minggu keempat.

dalam Wealth of Nation oleh Adam Smith, diceritakanlah sebuah teori ‘tangan tak terlihat’. singkatnya, dalam kondisi pasar yang ideal/efisien, pasar akan mengatur dengan sendirinya. tiap manusia diberkahi oleh keinginan untuk mendapatkan lebih, sehingga ingin memakimalkan keuntungannya. bagaimana caranya?  kalau manusia tidak ingin memperbaiki kualitas hidupnya, mungkin dia memang bosan hidup.
Baca lebih lanjut

Iklan

Sebuah cerita lama

Alkisah, ada seorang anak angkat raja di suatu masa. Walau anak angkat raja, ia tidak angkuh karenanya. Singkat cerita, saat dewasa, terusirlah dia dari kampungnya karena satu kesalahan fatal yang tidak sengaja dibuatnya, membunuh, karena melindungi temannya. Memang dari sananya ia terkenal dengan kekuatan fisiknya.

Bayangkan, dari gemerlapnya dunia, tetiba ia tak punya apa-apa. Terusir entah harus pergi ke mana. Putus asa? Mungkin, jika ia adalah saya. Saat itu, tanpa tujuan yang jelas, hanya satu pintanya; semoga jalan ini adalah jalan yang tepat. Baca lebih lanjut

aku bercerita tentang selimutku. sarung selimut, lebih tepatnya. warna biru sedikit putih, dengan kuning di sisi lainnya. pudar dimakan usia, karena sudah berkelana dari banda ke bandung, dan beberapa kota lainnya. aku tak pernah membelinya, itu selimut jatah tiap anak di sekolahku dulu, 9 tahun lalu. selimut yang diprotes mama untuk dibawa ke Canberra. ‘untuk apa’, katanya. ikut kata orang tua, ia pun tidak dibawa

sebelum itu, adalagi celana setulang kering, yang kadang sering disapa celana ponggol atau cela tiga-per-empat. lebih lama lagi kami bersama, kelas 1 SMP hingga sebelum pindah benua. teman yang nyaman untuk bepergian, juga saat santai di pantai. kantong kanan yang sudah bolong, dan terlalu malas untuk ditambal, tidak menjadi penghalang kebersamaan beberapa tahun belakangan. lagi-lagi, ditinggal dengan alasan yang sama.

bohong kalau dibilang aku tidak memikirkannya. tapi salah juga jika dikatakan aku merindukannya. kau tahu, seperti kenalan lama yang menjauh secara tak sengaja, sesekali terlintas di kepala tapi tak ada niat menghubunginya.

kau tahu, pelajaran yang paling mengerikan dari mereka? aku baik-baik saja tanpa mereka yang sudah lama bersama. tidak, baik bukan kata yang tepat. hampa? mungkin iya. sampai tahap tertentu, apakah aku menjadi wolfgang grimmer?

hihi, selamat datang kembali. benar kan, di sini lebih menawan hati?

aku tidak kembali kok. ini hanya kesalahan.

sudah fitrahnya kalau darah itu merah. sebagaimana sudah fitrahnya kau salah arah, tidak usah bersusah payah.

salah atau tidak bukan kau yang menentukan. bukan sekarang jawaban disimpulkan.

sudahlah, kenapa kau bersusah payah? ya, hadiahnya mewah, tapi kan itu katanya. kalau memang ada. kalau tidak ada? berapa puluh tahun kau tersia-sia? lalu jadi apa? hanya tanah kembali ke tanah.

kalau tidak ada, aku hanya menjadi tidak ada. kalau memang ada, kau mau bilang apa? justru selamanya aku sia-sia, bahkan terhina. ada-tak ada kemungkinannya hanya dua, setengah. kalau tak ada rugiku tak seberapa, kalau ada aku terhina selamanya, tak hingga. katanya kau jago matematika, hitung sendiri resikonya besar yang mana. Baca lebih lanjut

Menulislah

“Antara tulis sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak ditulis.”
-Benjamin Franklin

Eh tidak. Tidak semegah itu. Menulislah, walau bukan dengan alasan semegah itu.

Menulislah. Persetan manusia lainnya, ada satu pembaca yang selalu setia; penulisnya. Terserah massa berkata apa, menulislah. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan kita. Baca lebih lanjut

Hai kawan lama

Hei. Kelihatannya aku tersesat, lagi ya? Haha. Terlalu sering ini terjadi, hingga membuat kita menangis dan tertawa di waktu beriringan sepertinya. Cukup sering aku kebingungan mencari jalan, hanya untuk kemudian menemukan uluran tangan dari doa-doa kita.

Kau tahu, ada masanya kita satu. Kita, anak kecil yang sok tahu. Masa di mana kita bersama melawan dunia. Seakan ia hanya bola kecil di tangan, tak ada harganya. Menariknya, jika dilihat lagi, masa-masa itu adalah masa aku –kita– merasa benar-benar bahagia dan berwarna. Saat kita bisa benar-benar merasa dekat dengan-nya. Baca lebih lanjut