Tentang Tujuan

Bayangkan, di suatu malam, kamu tenggelam. Mencoba mengambang, berenang. Sekeliling hitam, warna gelap malam. Apa yang akan kamu lakukan? Jelas, cari tujuan, dan berenang ke daratan. Mungkin di sekelilingmu ada beberapa pulau terdekat, kamu bebas memilih yang mana saja. Yang jelas, memilih semuanya dan berganti-ganti tujuan di tengah jalan bukan jawaban, hanya akan membuatmu kelelahan. Baca lebih lanjut

Iklan

Tentang Pesiapan

Kalau kamu sepertiku, kebanyakan anak Indonesia, maka bisa dipastikan tujuan hidupmu satu; berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Ah ya, beserta berbakti pada orang tua, bermanfaat bagi sekitar, dan segala kata-kata serupa penuh makna lainnya. Entah ini pengaruh budaya atau memang penanaman nilai dari pendidikan kecil kita dulu. Setidaknya itu jawaban semua orang yang pernah saya dengar saat kuliah dulu.

Omong kosong. Bohong. Baca lebih lanjut

Setahun PK 32

Tidak ada negara seunik Indonesia. ribuan pulau, ribuan suku, ribuan budaya. tapi musiknya dari korea, tontonannya amerika, dan bacaannya manga. negara yang katanya gemah ripah loh jinawi, namun kata rakyatnya tanah kusewa, air kubeli. negara yang terkenal karena keramahan dan sopan-santunnya, namun juga terkenal karena korupsinya. negara yang diagung-agungkan sumber daya alamnya, namun dalam kondisi darurat energi. negara agararis yang, lucunya, menjadi pengimpor banyak bahan pangan. negara meritim yang garam pun tak bisa penuhi sendiri. garam saudara-saudara! bahkan garam!

tapi memang cinta itu buta. kita tahu negara ini buruk rupa, tapi tidak menghalangi kita untuk cinta. dalam hati, indonesia tetaplah tanah air kita. dan benarlah kata Hamka,

“Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.”

ingatlah! sadarilah! negara kita buruk rupa, tapi kita bukan yang paling menderita! ingatlah jerman, ingatlah jepang, ingatlah korea! sekarang mereka jaya, namun ada masanya mereka tak berdaya! sekarang mereka raksasa, tapi paska perang dunia kedua mereka hina! dan camkanlah, begitu juga Indonesia!

hari ini kita di berada di sini, untuk mempersiapkan petualangan kita. bukan petualangan biasa, namun petualangan demi membangun bangsa. tidak mudah pastinya. pundak kita, bukan menanggung beban biasa, tapi beban 250 juta rakyat Indonesia. namun jangan lupa, persiapan kita juga bukan persiapan biasa, namun persiapan dengan doa dari 250 juta rakyat Indonesia.

berat adalah harga sebuah perjuangan. sakit adalah keniscayaan. putus asa akan berbisik untuk menghentikan pergerakan.

Hamka sang ulama berkata, “Kalau Tuhan tidak menjadikan perhambaan dan perbudakan, tentu tidak akan timbul keinginan hendak mengejar kemerdekaan. Memang kalau tiada kesakitan, orang tidak mempunyai keinginan untuk mengejar kesenangan. Oleh itu tidak keterlaluan jika dikatakan bahawa sakit dan pedih adalah tangga menuju kejayaan.”

setelah ini sebagian kita akan berpisah dengan indonesia, namun bukan karena tidak cinta. kita akan pergi, namun bukan karena benci atau apati. melainkan untuk kembali membangun negeri. karena cinta, adalah perbuatan. kata-kata dan tulisan indah hanyalah bualan belaka.

Indonesia adalah negara kita, dan satu-satunya negara yang kita cinta! ingatlah kata Hatta,

“Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. ia tumbuh dengan perbuatan, dan itu adalah perbuatanku!”
Perbuatan kita, perbuatan garuda prawiramurti!

Mengenang setahun bersama keluarga PK 32 yang sekarang berpencar untuk belajar, dan insya Allah kembali untuk berbakti.

ketidak-efisienan pasar dan ketidak-jujuran pelajar

disklaimer: tulisan ini ditulis oleh orang yang bukan ahlinya ekonomi, bukan mahasiswa ekonomi, cuma kebetulan ambil mata kuliah pengenalan sumber daya dan ekonomi lingkungan. itu juga baru minggu keempat.

dalam Wealth of Nation oleh Adam Smith, diceritakanlah sebuah teori ‘tangan tak terlihat’. singkatnya, dalam kondisi pasar yang ideal/efisien, pasar akan mengatur dengan sendirinya. tiap manusia diberkahi oleh keinginan untuk mendapatkan lebih, sehingga ingin memakimalkan keuntungannya. bagaimana caranya?  kalau manusia tidak ingin memperbaiki kualitas hidupnya, mungkin dia memang bosan hidup.
Baca lebih lanjut

Sebuah cerita lama

Alkisah, ada seorang anak angkat raja di suatu masa. Walau anak angkat raja, ia tidak angkuh karenanya. Singkat cerita, saat dewasa, terusirlah dia dari kampungnya karena satu kesalahan fatal yang tidak sengaja dibuatnya, membunuh, karena melindungi temannya. Memang dari sananya ia terkenal dengan kekuatan fisiknya.

Bayangkan, dari gemerlapnya dunia, tetiba ia tak punya apa-apa. Terusir entah harus pergi ke mana. Putus asa? Mungkin, jika ia adalah saya. Saat itu, tanpa tujuan yang jelas, hanya satu pintanya; semoga jalan ini adalah jalan yang tepat. Baca lebih lanjut

aku bercerita tentang selimutku. sarung selimut, lebih tepatnya. warna biru sedikit putih, dengan kuning di sisi lainnya. pudar dimakan usia, karena sudah berkelana dari banda ke bandung, dan beberapa kota lainnya. aku tak pernah membelinya, itu selimut jatah tiap anak di sekolahku dulu, 9 tahun lalu. selimut yang diprotes mama untuk dibawa ke Canberra. ‘untuk apa’, katanya. ikut kata orang tua, ia pun tidak dibawa

sebelum itu, adalagi celana setulang kering, yang kadang sering disapa celana ponggol atau cela tiga-per-empat. lebih lama lagi kami bersama, kelas 1 SMP hingga sebelum pindah benua. teman yang nyaman untuk bepergian, juga saat santai di pantai. kantong kanan yang sudah bolong, dan terlalu malas untuk ditambal, tidak menjadi penghalang kebersamaan beberapa tahun belakangan. lagi-lagi, ditinggal dengan alasan yang sama.

bohong kalau dibilang aku tidak memikirkannya. tapi salah juga jika dikatakan aku merindukannya. kau tahu, seperti kenalan lama yang menjauh secara tak sengaja, sesekali terlintas di kepala tapi tak ada niat menghubunginya.

kau tahu, pelajaran yang paling mengerikan dari mereka? aku baik-baik saja tanpa mereka yang sudah lama bersama. tidak, baik bukan kata yang tepat. hampa? mungkin iya. sampai tahap tertentu, apakah aku menjadi wolfgang grimmer?