hihi, selamat datang kembali. benar kan, di sini lebih menawan hati?

aku tidak kembali kok. ini hanya kesalahan.

sudah fitrahnya kalau darah itu merah. sebagaimana sudah fitrahnya kau salah arah, tidak usah bersusah payah.

salah atau tidak bukan kau yang menentukan. bukan sekarang jawaban disimpulkan.

sudahlah, kenapa kau bersusah payah? ya, hadiahnya mewah, tapi kan itu katanya. kalau memang ada. kalau tidak ada? berapa puluh tahun kau tersia-sia? lalu jadi apa? hanya tanah kembali ke tanah.

kalau tidak ada, aku hanya menjadi tidak ada. kalau memang ada, kau mau bilang apa? justru selamanya aku sia-sia, bahkan terhina. ada-tak ada kemungkinannya hanya dua, setengah. kalau tak ada rugiku tak seberapa, kalau ada aku terhina selamanya, tak hingga. katanya kau jago matematika, hitung sendiri resikonya besar yang mana. Baca lebih lanjut

Hai kawan lama

Hei. Kelihatannya aku tersesat, lagi ya? Haha. Terlalu sering ini terjadi, hingga membuat kita menangis dan tertawa di waktu beriringan sepertinya. Cukup sering aku kebingungan mencari jalan, hanya untuk kemudian menemukan uluran tangan dari doa-doa kita.

Kau tahu, ada masanya kita satu. Kita, anak kecil yang sok tahu. Masa di mana kita bersama melawan dunia. Seakan ia hanya bola kecil di tangan, tak ada harganya. Menariknya, jika dilihat lagi, masa-masa itu adalah masa aku –kita– merasa benar-benar bahagia dan berwarna. Saat kita bisa benar-benar merasa dekat dengan-nya. Baca lebih lanjut