Yours is like winter

Yours is like winter. The cold, harsh wind creeping, whispering random memories long forgotten. The dried up feeble leaves, refusing to leave the branch they grow so fond of. The cloudy, gloomy skies, rebelling against the authority of the sun.

Yours is like winter. Understood by a few, loathed by most. Like death, like a cruel truth. Yet the most wicked truth is more enchanting than the most beautiful lies to those who understand.

Yours is like winter. Reminding me that there’s beauty in the very picture of death.

Iklan

A Code

I, the writer, hereby writing to remind myself that it is okay:

To try, as nothing is more regretful than losing by not trying.

To risk, as long as you calculate the risk (and prepared for any outcome).

To fail, as long as you get yourself back up.

To succeed and triumph, as long as you are not drowning in it.

To disappoint someone, as long as you make up for it later (if he/she’s worth it).

To be misunderstood, as long as you stay true to yourself.

To be disappointed, as long as you forgive. Baca lebih lanjut

Antara Kemarin dan Hari Ini

Kita berpisah malam ini
Mengembalikanku pada sepi
Menjauhkan semua tekanan
Meluruskan ingatan-ingatan yang bertebaran

Aku bangkit berkawan kelam
Bersama alam bertafakur dalam diam
Berjarak dari riuh rendah insan
berpisah dari pikuk kebisingan

Antara kemarin dan hari ini
Ada malam yang menyekat sepi
Antara kemarin dan hari ini
Berapa dalam terubah diri?
Antara kemarin dan hari ini
Berapa aksi yang berarti?

Papa dan 212

Papa dan 212
Kenalkan, kedua dari kiri yang imut-imut itu papa. Papa baru operasi pasang 3 ring pembuluh darah -setelah sebelumnya gagal- sebulan yang lalu. Di usianya yang 61, papa juga mengidap darah rendah dan gak boleh aktivitas yang berat-berat.

Papa bukan simpatisan partai tertentu. pasca 98, setau saya papa tidak pernah setia memilih satu partai tertentu. Papa juga bukan anggota ormas islam mana pun, walau sebagai orang aceh pemahaman islamnya bisa dibilang sama persis dengan NU*. Sekarang juga papa hanya mengikuti pengajian di komplek rumah, yang setau saya sepaham dengan NU. Papa sudah pensiun. Dengan kondisinya, jelas papa tidak akan pergi ke jakarta sekedar karena perintah ormas, apalagi demi materi.

Bicara 98, saya sempat mendapat teman baru di rumah. Namanya awi, keturunan etnis cina yang menginap di rumah kami bersama keluarganya beberapa hari. Padahal papa ‘cuma’ kenal keluarga yang berlainan agama itu karena sering beli peralatan elektronik di toko mereka. Jelas papa tidak anti sama etnis atau agama tertentu.

Papa dan kami sekeluarga juga termasuk yang pro Indonesia saat konflik. Jadi jelas kami tidak anti NKRI. Papa juga orang yang sering berkata kita tidak pernah benar-benar tahu tentang niat dan karakter politisi, dan sangat hati-hati berkomentar tentang mereka. Jelas papa bukan haters tokoh tertentu.

Terlepas dari banyak kelebihannya -yang beberapa tidak terwariskan ke saya terlepas usaha papa, sayangnya- papa juga bukan orang yang benar-benar idealis. Papa pernah membayar saat diperas polantas, daripada menghabiskan waktu menuntut yang memang haknya. Saat mahasiswa, saya tidak pernah tertarik ikut demo juga karena larangan papa, walau mungkin kami setuju dengan tuntutannya. Papa juga sering shalat subuh di akhir waktu, kebiasaan yang sayangnya terwariskan ke saya.

Papa jelas bukan pasukan bayaran, bukan pasukan fanatik ormas/partai tertentu, bukan anti cina, bukan anti NKRI, dan berhati-hati saat berkomentar tentang politisi. Tapi 2 desember 2016 ini papa ada ke monas di antara jutaan manusia lainnya.

Saya mengerti, beberapa teman Indonesia saya di sini (australia) trauma akibat kerusuhan 98. Beberapa lagi menganggap aksi seperti ini sering ditunggangi kepentingan politik, dan yang ikut aksi ini kebanyakan orang yang hanya ‘diarahkan’ oleh tokoh idolanya, atau bahkan pasukan bayaran. Tapi jelas papa tidak termasuk di dalamnya, dan saya yakin bukan papa sendirian yang seperti itu di antara jutaan manusia lainnya. Ada orang-orang yang bergerak karena cintanya, cinta pada agamanya, pada kitabsucinya, pada Tuhannya. Mungkin memang tidak masuk akal orang tua yang rela keluar kota hanya untuk beramai-ramai jumatan dan berdoa, tapi bukankah cinta memang di luar logika?

Ps: papa tidak main fb atau medsos lainnya. Benar, postingan ini niatnya hanya pamer papa tercinta yang bikin saya bangga sebagai anaknya, walau saya sendiri cukup malu untuk menyatakannya secara langsung. Kalau mama yang main fb menunjukkan postingan ini ke papa, mungkin saya tetap tidak berani mengatakannya langsung kalau ditanya papa.

Melbourne, 02.05 AEST, 3 Desember 2016. Seorang anak kurang ajar yang kelelahan karena sibuk mengejar dunia seminggu belakangan, dan tidak menyempatkan menelepon orangtuanya.

*Dakwah Islam sampai di Aceh dahulu baru ke pulau jawa, dan ulama aceh umumnya tidak menginduk ke organisasi NU dan punya organisasi sendiri yang lebih tua walau pahamnya sama. Kebanyakan teman-teman NU sendiri yang saya kenal memilih tidak ikut aksi, berbeda dengan muslim aceh (yang pahamnya sama) yang cenderung pro aksi.

**foto di bawah adalah foto papa dan rombingan dari komplek perumahan kami.
Tulisan di atas adalah salinan dari status fb saya. Tambahan: ternyata PWNU Jakarta juga turut serta dalam aksi 212, malah merupakan salah satu posko terpanjang.

Pertanyaan yang akan membantu menentukan tujuan hidupmu

Kata orang bijak dahulu, pertanyaan yang tepat lebih bermanfaat dari jawaban. Ketika jawaban berubah seiring berubahnya masa, pertanyaan cenderung tetap abadi. Termasuk pertanyaan “Apa tujuan hidupku?” yang sudah ditanyakan manusia entah berapa generasi sebelumnya, dan tetap relevan hingga sekarang. Bahkan mungkin lebih relevan, karena kita dihadapi dengan lebih banyak pilihan.

Kebanyakan dari kita tidak tahu mau dibawa ke mana hubungan jalan hidup kita setelah lulus sekolah. Bahkan setelah lulus kuliah. Setelah bekerja. Bahkan setelah berpenghasilan. Kalo kamu juga demikian, tenang, kamu tidak sendirian. Baca lebih lanjut