Pertanyaan yang akan membantu menentukan tujuan hidupmu

Kata orang bijak dahulu, pertanyaan yang tepat lebih bermanfaat dari jawaban. Ketika jawaban berubah seiring berubahnya masa, pertanyaan cenderung tetap abadi. Termasuk pertanyaan “Apa tujuan hidupku?” yang sudah ditanyakan manusia entah berapa generasi sebelumnya, dan tetap relevan hingga sekarang. Bahkan mungkin lebih relevan, karena kita dihadapi dengan lebih banyak pilihan.

Kebanyakan dari kita tidak tahu mau dibawa ke mana hubungan jalan hidup kita setelah lulus sekolah. Bahkan setelah lulus kuliah. Setelah bekerja. Bahkan setelah berpenghasilan. Kalo kamu juga demikian, tenang, kamu tidak sendirian.

Sebagian sebab kesusahan ini adalah karena konsep ‘temukan tujuan hidup’ itu sendiri. Seakan-akan kita memang dilahirkan untuk memainkan peran maha penting di dunia ini, yang tanpanya semua akan berbeda. Yah, bagi yang religius, mungkin memang demikian adanya. Tapi sejauh mana kita bisa mengetahui apa peran kita, sampai kita memainkannya? Zip, nada. Kita tidak akan tahu sampai itu terjadi. daripada membuang waktu mencari tahu hal yang tidak bisa diketahui, bukankah lebih baik menentukan sendiri?

Maka daripada menemukan, yang lebih tepat adalah tentukan tujuan hidup kita. Yang berarti, ketika bertanya “apa tujuan hidupku?” yang sebenarnya ditanyakan adalah “apa hal berharga yang ingin kulakukan di waktu hidupku yang berharga dan terbatas ini?”

Untuk membantu menentukan apa yang akan seseorang lakukan di masa hidupnya, ada yang memberi pertanyaan “Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu punya uang seratus milyar rupiah?”

Niatnya, apa pun jawaban mereka, maka itulah profesi yang sebaiknya mereka pilih. Karena saat uang tidak lagi menjadi masalah, biaya hidup tidak lagi jadi masalah, apa kegiatan yang kamu lakukan dalam hidup, adalah kegiatan yang menurutmu berharga.

Atau tidak. Setidaknya untukku, itu untuk sebagian orang termasuk aku itu tidak berlaku. Kalau punya banyak uang, kemungkinan terbesar dihambur-hamburkan mengejar kemewahan. Atau mungkin disumbangkan. Tapi ya, mana mungkin disumbangkan. Tapi hari-hari hanya akan dihabiskan dengan tidur-tiduran.

Jadi bagaimana caranya? Berikut beberapa pertanyaan yang aku dapati membantu untuk menentukan tujuan hidup.

 

 

  • Apa masalah di dunia ini yang ingin kamu bereskan?

 

Tiap masa punya masalahnya sendiri. Termasuk saat ini. Di  era informasi, justru kita bisa tahu lebih banyak masalah yang terjadi. Tidak usah banyak-banyak, pilih satu dan perjuangkan. Hatta, Natsir, dan Sjahrir memilih kemerdekaan Indonesia sebagai maslaah mereka. Ustadz Hanan Attaki memilih berjuang merangkul anak-anak muda yang lebih dekat dengan Islam. Ibu Elly Risman memilih isu parenting yang di Indonesia tanpa disadari sudah di tahap kritis. Dr. Gamal Albinsaid memilih menjawab masalah akses kesehatan orang susah, dengan cara rela dibayar dengan sampah. Banyak juga mereka yang berkontibusi untuk manusia, tapi namanya tidak dikenal oleh banyak manusia. Cari sendiri masalahmu, dunia tidak akan pernah kehabisan masalah. Mungkin (awalnya) tidak sebesar masalah mereka, tiap orang kan ada porsinya. Bisa juga, kamu mendukung perjuangan mereka. Siapa yang bisa berjuang sendirian, kan?

 

 

  • Apa cara yang paling kamu sukai untuk mempermalukan diri sendiri?

 

Serius, ini penting. Setiap yang jago awalnya adalah seorang pemula. Bakat itu penting, tapi keahlian harus dibayar dengan perjuangan, bakat tidak akan pernah cukup. Ga ada ceritanya kecuali kamu dalam manga, tiba-tiba ada kucing masa depan datang dengan segala peralatan yang penuh keajaiban. Atau alien yang memberimu kostum yang memberimu kekuatan super untuk menjaga perdamaian.

Bob Sadino? Jatuh-bangun keliling kampung untuk jualan telur. Baginya, mengetuk-ngetuk pintu rumah bukan masalah, walau banyak di antara kita yang enggan, entah karena malu atau gengsi terlalu tinggi.

MIchael Jackson? Saat SMP dikeluarkan dari tim basket saking payah dan pendeknya. Baginya, latihan dan gagal bukan hal yang memalukan.

Walt Disney? Karyanya berkali-kali ditolak berbagai media massa. Baginya, hidup miskin karena tidak punya penghasilan, dikucilkan. harga yang layak untuk memiliki waktu untuk berkarya alih-alih bekerja demi hidup yang mendingan? baginya ya.

“Jangan takut jatuh, kerana yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Yang takut gagal, kerana yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, kerana dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua”

-HAMKA

 

 

  • Kalau kamu pasti mati setahun lagi, apa yang dari sekarang akan kamu lakukan?

 

Mati itu pasti. Kita semua tahu ini, tapi seringkali lupa karena merasa masih jauh nanti. Kalau tahu pasti kapan mati menghampiri, apa yang akan kamu lakukan. Waktu kita terbatas, dari dulu begitu adanya. Tapi kalo tahu pasti mati setahun lagi, bagaimana waktu akan kita lalui? Bagaimana hidup kita ingin diingat orang-orang terdekat?

Dan sekiranya ditanya nanti untuk apa waktu kita habiskan, apa jawaban yang ingin kita sampaikan? Yang dengan bangga bisa kita berikan?

 

“Waktu bagi orang Islam adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.”

-HAMKA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s