Tentang Tujuan

Bayangkan, di suatu malam, kamu tenggelam. Mencoba mengambang, berenang. Sekeliling hitam, warna gelap malam. Apa yang akan kamu lakukan? Jelas, cari tujuan, dan berenang ke daratan. Mungkin di sekelilingmu ada beberapa pulau terdekat, kamu bebas memilih yang mana saja. Yang jelas, memilih semuanya dan berganti-ganti tujuan di tengah jalan bukan jawaban, hanya akan membuatmu kelelahan.

Sederhananya, begitu juga hidup. Pendidikan Orde Baru menurutku sudah berusaha menanamkan kesadaran ini dari awal. Makanya, kalau ditanya cita-cita pasti banyak yang jawab “Berbakti pada orang tua, berguna untuk bangsa, mati masuk surga“.

Jawaban generik. Jawaban yang baik, tapi sebenarnya ga menjawab. Jawaban tadi sama bodohnya dengan menjawab “mau lulus kuliah” saat ditanya “mau kuliah apa?”

Tolong, memangnya surga hanya milik profesi mentereng seperti ulama dan presiden saja? Atau anda beranggapan buruh bangunan dan pekerja kasar lainnya tidak berguna untuk bangsa? Bukankah semua orang bisa dan wajib berbakti pada orang tua? Tujuan yang terlalu luas hanya akan membuatmu kebingungan dan berputar-putar. Bicara fisika, besar gaya dari arah yang beragam kalah besar dengan gaya dari arah yang seragam.

Dunia ini tidak terbentuk dari apa yang kamu pikirkan, tapi apa yang kamu lakukan. Bisa jadi kita menyukai atau tidak menyukai sesuatu, tapi kita juga bisa memilih untuk melakukannya atau tidak.

Seandainya manusia hanya melakukan apa yang dia sukai saja, mungkin Indonesia tidak akan merdeka. Bisa jadi tidak ada jenderal bernama Sudirman. Apa enaknya coba keluar-masuk hutan, bersembunyi dari musuh yang berkejaran, menghadapi keterbatasan makanan, hanya untuk perlawanan yang belum tentu berbuah kemerdekaan?

Aku benci tiap menit dari latihan. Tapi aku katakan ‘jangan berhenti. Menderita sekarang dan jalani sisa hidupmu sebagai juara’

–Muhammad Ali

jika sebatas kenyamanan, Teuku Umar tidak akan melawan Belanda. orang lain mungkin melawan karena posisinya yang tidak nyaman. tapi Teuku Umar berbeda. ia melawan justru saat dijamin keamanan dan kenyamanan. tapi tujuan beliau, lebih besar dan lebih mulia dari itu. senada dengan Sudirman, keluar masuk hutan dan segala kesusahan menjadi harga yang harus dibayarkan. dan ia, setia dengan tujuannya.

Tujuan, bukanlah kemewahan. Bukan kenikmatan. Ia adalah bagaimana memberikan penghargaan pada kehidupan. Sebagian sukses mencapainya di waktu muda, sebagian saat tua, dan sebagian mati berusaha. Semuanya, menjalani hidup yang berharga karena tujuannya.

Apa artinya kapal di lautan tanpa tujuan? Terombang-ambing dihempas angin diseret arus. Apa artinya hidup tanpa tujuan? Ibarat mati, hanya kafan saja yang belum terbungkus.

Banyak orang mati saat dua puluh lima dan tidak dikubur sampai mereka tujuh puluh lima

­–Benjamin Franklin

Itu bukan kamu, kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s