Tentang Pesiapan

Kalau kamu sepertiku, kebanyakan anak Indonesia, maka bisa dipastikan tujuan hidupmu satu; berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Ah ya, beserta berbakti pada orang tua, bermanfaat bagi sekitar, dan segala kata-kata serupa penuh makna lainnya. Entah ini pengaruh budaya atau memang penanaman nilai dari pendidikan kecil kita dulu. Setidaknya itu jawaban semua orang yang pernah saya dengar saat kuliah dulu.

Omong kosong. Bohong.

Bukan, bukan maksudku menghakimi. Itu hidup mereka kan? Tidak ada hakku mencampurinya. Tidak ada yang salah dengannya, apalagi tujuan-tujuan itu memang mulia. Tapi itu sama bohongnya dengan jawaban dari pertanyaan “mau naik haji ga?” pada tiap muslim.

Tiap muslim pasti menjawab ingin naik haji walau kenyataannya, tidak semuanya ingin naik haji. Bukan, bukan tidak semuanya bisa naik haji, tapi pada kenyataan tidak semua ingin melaksanakan haji. Tanpa sadar mereka menipu dirinya sendiri.

Tidak percaya? Coba tanya mereka, “Sudah punya tabungan khusus untuk haji?”

Tidak usah tanya berapa tabungannya, karena itu tidak relevan. Kondisi tiap orang berbeda kan? Cukup tanyakan, sudah punya tabungan khusus buat haji? Maka yang bisa menjawab iya hanya segelintir saja. Sialnya, begitu juga kebanyakan dari kita, dalam kebanyakan aspek dalam hidup kita, bahkan termasuk dalam tujuan hidup kita sendiri.

Kita bertujuan, tapi tidak memulai perjalanan. Kita mempunyai harapan, tapi tidak melakukan persiapan. Bukankah sama artinya dengan meniscayakan kegagalan?

Hamka pernah bercerita, tentang seorang supir yang istrinya akan melahirkan. Untuk membayar biaya persalinan, datanglah ia menghadap sang majikan. Harapannya, majikan bersedia memberikan pinjaman.

“Tentu uang segini hal yang mudah bagi majikannya” pikirnya. Diceritakanlah permaslaahannya.

Setelah mendengar sampai selesai keluh kesahnya, majikannya bertanya “Terus nanti bagaimana kamu akan membayarnya?”

Sebagai orang yang bertanggung jawab, tentu ia akan membayarnya.

“Akan saya cicil dari gaji saya” katanya.

Disampaikan hitung-hitungannya pada sang majikan. Sebagian dari gajinya, dikali beberapa bulan cukuplah untuk biaya persalinan.

Kembali majikannya bertanya “istrimu hamil berapa bulan?”

“Sembilan bulan, Tuan“ jawabnya. Dalam hati ia keheranan, apa mungkin manusia hamil bukan sembilan bulan?

“oh gitu. Ternyata kamu tahu istrimu hamil sembilan bulan. Terus selama ini kamu ke mana saja, tidak mempersiapkan?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s