aku bercerita tentang selimutku. sarung selimut, lebih tepatnya. warna biru sedikit putih, dengan kuning di sisi lainnya. pudar dimakan usia, karena sudah berkelana dari banda ke bandung, dan beberapa kota lainnya. aku tak pernah membelinya, itu selimut jatah tiap anak di sekolahku dulu, 9 tahun lalu. selimut yang diprotes mama untuk dibawa ke Canberra. ‘untuk apa’, katanya. ikut kata orang tua, ia pun tidak dibawa

sebelum itu, adalagi celana setulang kering, yang kadang sering disapa celana ponggol atau cela tiga-per-empat. lebih lama lagi kami bersama, kelas 1 SMP hingga sebelum pindah benua. teman yang nyaman untuk bepergian, juga saat santai di pantai. kantong kanan yang sudah bolong, dan terlalu malas untuk ditambal, tidak menjadi penghalang kebersamaan beberapa tahun belakangan. lagi-lagi, ditinggal dengan alasan yang sama.

bohong kalau dibilang aku tidak memikirkannya. tapi salah juga jika dikatakan aku merindukannya. kau tahu, seperti kenalan lama yang menjauh secara tak sengaja, sesekali terlintas di kepala tapi tak ada niat menghubunginya.

kau tahu, pelajaran yang paling mengerikan dari mereka? aku baik-baik saja tanpa mereka yang sudah lama bersama. tidak, baik bukan kata yang tepat. hampa? mungkin iya. sampai tahap tertentu, apakah aku menjadi wolfgang grimmer?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s