Cerpen: Sang Bujang (2/habis)

Ada orang yang merantau ke pulau Jawa atau Malaysia meninggalkan kampung halamannya bertahun-tahun, baik untuk bekerja atau belajar. Dan ketika kembali ke kampung halamannya ia menjadi orang asing (merasa asing lebih tepatnya) dengan kehidupan pedesaan. Ia yang dulu berbicara ceplas-ceplos kini terlihat (memperlihatkan diri) terdidik dengan gaya bicaranya. Kadang, ketika ia berbaur dan berbicara dengan masyarakat ia menyelipkan bahasa-bahasa Indonesia yang gaul atau istilah-istilah dalam bahasa Inggris yang membuat kening orang-orang awam berkerut bahkan ingin muntah. Ini bukan berarti aku tidak setuju dengan gaya bahasa yang santun, misalnya dengan mengganti ‘kee‘ menjadi ‘loen‘ (‘kee‘ adalah bahasa Aceh kurang lebih bermakna seperti ‘Gue‘ dalam bahasa Indonesia, sedangkan ‘loen‘ bisa diartikan dengan ‘Saya‘ yang tentu saja lebih sopan). Tapi bukankah seharusnya kita berbicara dengan orang-orang dengan gaya dan bahasa mereka? Bukankah mereka, orang kampung kita seharusnya berhak untuk mendapatkan sedikit pencerahan dari pengalaman atau pendidikan yang kita dapatkan? Jika iya, kenapa kita berbicara dengan bahasa dan istilah-istilah aneh yang membuat mereka muak mendengarnya? Kenapa kita kadang mengisolasi diri dari mereka seolah mereka sama sekali tidak layak untuk berdiskusi dengan kita?

Secara umum, aku cukup menikmati kehidupanku di kampung. Ini adalah kehidupan yang sama seperti beberapa tahun lalu yang memberikan ketenangan, kedamaian dan cerita-cerita unik yang sulit kulupakan. Yang beda hanya tentang umur, tentang beberapa anak ingusan yang kini sudah menjadi remaja-remaji (emang ada istilah remaja-remaji?) atau tentang beberapa kawan laki-laki yang sudah menikah dan teman-teman perempuan se-SD yang kini punya anak satu atau dua. Jika pagi aku membantu ibu di sawah. Pernah, suatu kali ketika pulang dari Jakarta aku sampai dirumah sekitar jam 11.00 malam, besok paginya ibu langsung berujar;

“Yeh pat parang kacok kajak tak ateung blang siat!”

Tanpa ba bi bu ibu langsung menyuruhku membersihkan pematang sawah dari rumput yang mengganggu padi. Sore hari biasanya aku mengunjugi saudara, teman lama atau bermain bola kaki di kebun kosong atau sawah yang di sulap menjadi lapangan bola. Malamnya jika tidak menonton bola di warung kopi, aku pergi ke tambak mencari kepiting yang nantinya akan terhidang bersama mie (Aceh). Kadang ada teman yang mengajak memanen rambutan atau bermalam di kebun durian menunggu durian runtuh. Semua rutinitas ini tentu menyenangkan jika dilakukan dalam kurun waktu yang tak terlalu lama.

***
Lhee ploeh kubuet inoe meu udoem ka supoet uroe-uroe, gadoeh peusabe kai ngen are!

Bang Maskur mengusir beberapa bocah yang sedari bermain catur di warungnya. ‘Lhee ploeh’ atau tiga puluh menurut yang kupahami dari beberapa obrolan pemuda kampungku adalah angka dalam judi togel yang berarti anak kecil. Angka 87 berarti orang gila, sementara 21 bermakna wanita tunasusila. Meskipun seumur-umur aku belum bernah melihat apalagi bermain judi togel, namun banyaknya pemuda kampung yang terjerumus dalam maksiat ini membuat kami mafhum dengan beberapa istilah nomor togel. Ironi memang. Di sebuah negeri bersyari’at islam yang dijuluki dengan Serambi Mekkah judi togel tumbuh menjamur meskipun secara sembunyi-sembunyi.

“Gam, kalau aku mencalonkan diri dari ketua pemuda desa kita kira-kira cocok tak?” Bang Maskur bertanya padaku sambil menyisir rambutnya.

Ngapain Bang? Jadi pemimpin itu tanggung jawabnya besar, Abang yakin bisa mengemban amanah itu?” Aku balik bertanya.

“Yakin banget sih nggak, tapi kita kan harus berusaha dulu. Lagi pula, aku muak melihat si Joel yang tak pernah nampak batang hidungnya di meunasah” Seloroh Bang Maskur. Joel adalah nama panggilan Zulfikar, ia ketua pemuda desa kami, orangnya lumayan baik, hanya saja ia bermasalah dengan shalatnya.

“Kalau memang niat Abang baik ya lanjutkan Bang, sepertinya keren juga jika kepala desa kita punya menantu ketua pemuda”. Aku menggoda Bang Maskur yang memang kutau menaruh hati pada Cut Zahra, putri kepala desa kami.

“Gam, apa pendapatmu jika aku melamar Cut Zahra, putri Ampoen Yan?” Setengah berbisik Bang Maskur bertanya padaku.

“Bagus, tapi Abang yakin Cut Zahra mau?”

“Nah..! Itu dia. Sampai saat ini aku bingung apakah dia suka padaku atau tidak”

Cut Zahra, seperti namanya memang menjadi bunga desa di kampung kami. Sudah beberapa tahun ia menjadi guru honorer dan tak kunjung di angkat menjadi PNS. Butuh duit banyak untuk menyogok dan memuluskan seseorang agar menjadi PNS. Yang dekat dengan beberapa petinggi GAM biasanya lebih mudah untuk di angkat. Sayangnya, keluarga Ampoen Yan memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan GAM. Sejak zaman DI/TII dulu, para bangsawan dan keturunannya memang sering bertikai dengan gerakan-gerakan perlawanan.

“Bagaimana kalau kita tes, Abang pura-pura terserang penyakit ayan di depan Zut Zahra. Nanti kita lihat bagaimana reaksi dia. Kalau dia kaget, sedih, menangis dan memberikan pertolongan kepada Abang kemungkinan besar dia sayang sama Abang. Kalau tidak berarti sebaliknya” Usulku setengah bercanda.

Sebenarnya aku sendiri tak yakin dengan usulanku. Tapi aku tak tau bagaimana caranya membahagiakan lelaki bujang di sampingku ini. Meski awalnya Bang Maskur tak setuju, akhirnya mau tak mau ia terima juga usulanku.

Oh ya. Lupa kuceritakan bahwa semenjak tamat SMA, Bang Maskur sering pingsan dan kejang-kejang sendiri jika berolahraga atau bekerja terlalu capek. Orang-orang kampung menyebut penyakit Bang Maskur dengan ‘pungo bui‘ atau gila babi (nama penyakit ini cukup menohok hatiku ketika disandingkan dengan Bang Maskur). Kukira, penyakit ayan atau epilepsi ini adalah salah satu penyebab kenapa Bang Maskur masih menjomblo sampai saat ini.

***
“Bagaimana reaksi Cut Zahra Bang?” Tanyaku bersemangat.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala dan dengan muka muram Bang Maskur berujar; “sepertinya dia memang tak punya perasaan apa-apa untukku”.

Bang Maskur menceritakan bahwa ketika ia pura-pura pingsan di depan Cut Zahra, perempuan itu hanya melihat, bingung dan kaget. Kemudian ia berteriak memanggil beberapa orang, sama sekali ia tak membantu Bang Maskur. Aku menyesal ternyata usulanku justru membuat Bang Maskur kecewa.

“Tidak langsung membantu kan nggak harus berarti bahwa Cut nggak sayang sama Abang, siapa tau ia takut bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya” Aku mencoba menghibur Bang Maskur.

Menurutku, Bang Maskur sangat cocok disandingkan dengan Cut seandainya Bang Maskur tidak sakit dan Cut bukan dari keturunan ‘ulee balang‘ (bangsawan). Meskipun aku bukan ahli dalam memahami bahasa tubuh perempuan, namun aku yakin bahwa rona wajah Cut Zahra yang tersipu malu ketika beberapa ibu-ibu menggoda dan berkata tentang betapa cocoknya Cut dan Bang Maskur adalah rona cinta. Hanya saja, rasa gengsi, bahwa ia keturunan orang berdarah biru dan seorang berpendidikan telah mengikis sebagian perasaannya hingga ia sebisa mungkin menyembunyikan suara hatinya. Lagi pula, kurasa perempuan itu sedang galau dikarenakan ada seorang polisi dari kampung sebelah yang berusaha mendekatinya.

***
“Peu kulamar laju keudeh si dek Cut gam?” Bang Maskur mengutarakan keinginannya untuk melamar Cut Zahra.

“Kalau Abang memang siap, termasuk dengan semua resikonya nanti, ya lanjutkan Bang. Lagi pula lebih cepat lebih baik sebelum didahului oleh orang. Dalam agama kita kan tidak boleh melamar seseorang yang telah dilamar orang lain” Bang Maskur mengangguk setuju.

“Bila perlu, nanti malam kita langsung ke rumah Syik Husein, biar beliau yang melamarnya” tegasku.

“Ok, nanti malam ba’da isya kita berangkat.”

Aku mengangguk setuju.

***
Malam itu, kami kerumah Syik Husein dan mengutarakan semua keinginan Bang Maskur mempersunting Cut Zahra. Syik Husein menasehati kami dan bercerita kepada kami tentang kesepadanan dalam pernikahan. Bahwa seorang laki-laki harus sepadan dalam beberapa hal seperti pendidikan, pekerjaan, fisik dan lain-lain. Bahwa pernikahan adalah bagian dari takdir Allah dimana kita harus berlapang dada atas semua yang ditakdirkannya, terlepas apakah takdir itu baik menurut kita atau sebaliknya.

Syik Husein menyanggupi keinginan Bang Maskur untuk melamar Cut Zahra.

***
“Bagaimana jawaban Ampoen Yan Syik?” Tanya Bang Maskur.

Syik Husein menghela nafas. Dengan tenang beliau berujar; “Kau siap mendengarnya?”. Bang Maskur mengangguk.

“Ampoen Yan meminta waktu seminggu untuk berpikir dan bermusyawarah dulu”.

Bang Maskur menarik nafas. Aku tidak tau apakah ia lega dengan jawaban itu atau sebaliknya. Tapi paling tidak, kami masih punya harapan untuk mendengarkan kata ‘ya’ dari Ampoen Yan.

***
Selama hari-hari penantian itu, aku melihat Bang Maskur semakin rajin beribadah. Tak jarang aku melihatnya menangis dalam doanya. Pernah kupergoki ia shalat tahajjud di meunasah kemudian menangis pilu dalam doanya yang panjang.
Laki-laki bujang itu, kini harapannya digantung. Sulit bagiku untuk tak berpikir, kesebatangkaraannyalah yang membuat Ampoen Yan berpikir 2 kali untuk menikahkan anaknya dengan lelaki bujang yang hanya tamat SMA itu. Tapi bukankan Allah adalah penerima doa hamba-Nya? Terlebih seorang hamba yang telah kehilangan harapan kecuali pada-Nya. Aku yakin dan percaya, apapun jawaban Ampoen Yan, apapun takdir Allah yang akan berlaku untuk seorang anak manusia ini, yang telah melewatkan putaran waktu dalam hidupnya sebagai manusia tanpa cinta adalah tetap yang terbaik. Sekalipun kita tak pernah tau hikmah dibalik semua itu.

***
Besok adalah hari jum’at, tepat seminggu sudah Ampoen Yan menangguhkan jawabannya kepada kami. Aku was-was menantikan jawaban apa yang akan kami dengarkan dari Syik Husein. Aku was-was seolah akulah yang melamar Cut Zahra. Jika aku menjadi Bang Maskur, tentu akan menyakitkan ketika sebuah perasaan cinta, keinginan untuk menyempurnakan separuh agama harus tertolak oleh sebab perbedaan status sosial. Aku was-was karena dari beberapa orang tua kampung kudengar ada salah seorang anggota keluarga polisi yang menyukai Cut Zahra juga menyambangi rumah Ampoen Yan siang tadi. Jika itu adalah sebuah pelamaran atas lamaran, maka alangkah tercelanya perbuatan mereka. Astaghfirullah. Aku tetap harus berbaik sangka. Semoga Allah menakdirkan yang terbaik untuk kami.

***
Angin laut berhembus kencang meletupkan deburan ombak yang sayup suaranya terdengar sampai ke desa kami. Suara azan subuh berkumandang pelan dan aku yakin itu bukan suara Bang Maskur. Sampai di meunasah aku shalat sunnah dan Bang Maskur belum menampakkan batang hidungnya.

Selesai shalat shubuh, aku menuju ke warung kopi Bang Maskur.

“Rasyidin..! Kau lihat Bang Maskur kemana?” Tanyaku pada Rasyidin yang sedang mengatur meja dan kursi.

“Memang di meunasah tak ada?” Rasyidin balik bertanya.

“Tadi ketika aku memanaskan air, Bang Maskur bilang mau ke WC sebentar”.

Seperti denting suara jam, sesuatu seperti menyadarkanku. Jangan-jangan Bang Maskur pingsan dalam WC, epilepsinya kambuh. Aku segera menghambur ke WC umum di dekat meunasah. Nyak Mat, seorang kuli bangunan yang menunggu antrian masuk WC menggerutu sendiri.

“Nyoe yang lam WC blah noe aleh peu i peuget i dalam. Aleh dijak peuget rapat lam WC”. Kata Nyak Mat jengkel.

“Memangnya siapa di dalam Mat?” Tanyaku.

“Itulah, aku pun tak tau, sudah dari tadi nggak keluar-keluar.”

Aku semakin curiga jangan-jangan Bang Maskur memang pingsan di dalam. WC umum yg terletak di kampung kami adalah WC tua tanpa bak air. Ditengah-tengah WC dua kamar itu terletak sumur yang dari dalamnyalah kami menimba air untuk membersihkan (maaf) kotoran.

“Ada orang di dalam…?” Aku menggetuk pintu WC.

“Halo…! Kalau ada orang tolong bersuara..!” Aku menggedor pintu, aku mulai panik.

“Bang Maskur…..!” Teriakku.

Sekarang aku benar-benar curiga bahwa orang yang didalam WC adalah Bang Maskur. Mataku mulai menguap. Aku panik.

“Braaaakkkk” Aku Mendobrak pintu WC. tak ada siapapun. Tapi sandal itu. Ya Allah..! Aku tahu siapa pemilik sandal yang tinggal sebelah itu. Lututku mulai lemas. Kulihat di belakang pintu celana jeans Bang Maskur tergantung.

“Nyak Mat, tolong panggil orang-orang, sepertinya Bang Maskur pingsan dan jatuh ke dalam sumur!” Setengah berteriak aku menyuruh Nyak Mat untuk meminta bantuan.

***
Setelah setengah jam, setelah beberapa penyelam silih berganti menyelam, dengan susah payah jenazah Bang Maskur berhasil di angkat. Tangisku akhirnya pecah. Hatiku benar-benar remuk. Cut Zahra meronta, ia bersikeras ingin mendekat dan melihat jenazah Bang Maskur. Ampoen Yan, dengan mata yang memerah memerintahkan untuk membawa Cut Zahra menjauh.

“Mengapa kalian selalu menghalangi cinta kami..!”

Cut Zahra berteriak mengagetkan semua orang. Aku paham, kepada siapa kata-kata itu ditunjukkan. Ampoen Yan menundukkan pandangannya. Untuk pertama kalinya beliau tak berani menatap tatapanku yang marah dan pilu. Semua orang larut dalam kesedihan. Syik Hasan, tentara veteran DI/TII itu yang pernah berseteru dengan Bang Maskur terduduk tak bersuara dengan airmata yang gagal ia bendung. Hari itu, hari jum’at, langit mendung mewakili perasaan kami. Bang Maskur, lelaki bujang yang sebatangkara itu meninggalkan dunia fana ini dengan cara yang tak pernah terpikirkan olehku. Di hari jum’at dan dengan cara tenggelam. Tiba-tiba aku teringat dengan kisah seorang sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Julabib. Julabib yang di anggap rendah dan pinangannya sempat ditolak itu syahid ketika berjihad. Allah lebih memilih memberikan bidadari akhirat untuknya. Semoga Allah memberikan pahala kesyahidan untuk Bang Maskur dan menikahkannya dengan bidadari yang jutaan kali lebih baik dari Cut Zahra.*

SEKIAN

*Sebagian besar cerita ini adalah fiktif. Jika terdapat kesamaan nama, tempat dan cerita, maka hal itu hanyalah sebuah kesalahan yang disengaja. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s