Terima Kasih

“Cara belajar terbaik adalah dengan mengajar”

Termasuk dalam kehidupan. Tiga minggu menemani adek-adek yang baru lulus sma mempersiapkan diri menghadapi sbmptn, mengajariku banyak tentang kehidupan. Mungkin lebih tepatnya, menggali kembali kebijaksanaan yang pernah diajarkan yang tertimbun dalam rutinitas kehidupan. Ada, tak hilang, tapi kadang terlupakan.

Sebagai mana kebanyakan dari kita dahulu, mereka juga, tidak dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan. Terlalu lama hanya memiliki satu tujuan dari pembelajaran, yaitu kelulusan hanya untuk bersekolah di jenjang selanjutnya, membuat mereka kebingungan menghadapi banyak pilihan.

“Kak, kalo jurusan ini cocok gak ya denganku?”

“Aku sendiri bingung mas aku sukanya di mana.”

“Saya masih bingung pilih jurusan, antara mau idealis atau realistis.”

“Kalo nanti gak lulus gimana?”

“Saya suka bidang ini, tapi kayaknya kalo terus di sini nanti ga sanggup menghadapinya.”

Berbincang dengan kalian mengingatkanku dangan diri sendiri beberapa tahun lalu. Aku sendiri, tidak pikir panjang dalam memilih jurusan. Begitu juga milih kampus. Sebuah keputusan yang pernah kusesali, tapi lebih banyak kusyukuri.

Banyak berbincang dengan kalian, rasanya seperti berdialog dengan diri sendiri.

“Tujuan hidup kamu apa? Kalo menurutku, lebih baik kamu memilih sesuai tujuan hidupmu daripada kamu sukanya di mana. Di bidang yang kamu sukai, bisa aja nanti kamu menyerah karena susah dan kamu gak suka lagi. Tapi kalo kamu punya tujuan hidup, dan kamu tau konsekuensi dari tujuanmu, sesusah apa pun kamu akan sanggup. Karena kamu tahu itu tujuanmu, dan kamu tahu untuk apa kamu berjuang.”

“Hmm. Aku juga gak tau bedanya geomatika dan geofisika apa. Kamu udah coba google? Sekarangkan masih ada waktu beberapa hari untuk nentuin pilihan, kalo kamu ragu, mending cari informasi dulu sebanyak-banyaknya. Bisa jadi keputusanmu nanti menentukan arah hidupmu, pikirkan matang-matang ya.”

“Kalo kamu udah buat keputusan, kamu harus siap menjalaninya. Termasuk kemungkinan terburuk. Kuliah nanti, ga kayak sma. Beda setahun-dua tahun itu gak masalah, apalagi nanti di dunia kerja.

Temanku ada kok yang gagal masuk ITB, keterimanya di IT Telkom. Tahun depannya, dia coba lagi ke ITB, dan keterima. Seangkatan denganku. Cewek.

Yang akan menjalani kehidupanmu nantinya, kamu sendiri. Makanya, ambil keputusan yang tidak akan kamu sesali. Orang lain hanya bisa kaaih saran, tapi baik-buruknya nanti kamu sendiri yang akan menghadapi.”

“Yang penting jangan lupa berdoa. Usaha kita ini tidak ada artinya, melainkan untuk menunjukkan kesungguhan kita. Ingat cerita Siti Hajar? 7 kali bolak-balik mencari air untuk Ismail, eh, ujung-ujungnya ketemu di bawah kaki Ismail yang masih bayi”

Dan tiap berucap, dalam hati selalu berkata “benar juga.”, dan menjadi semangat baru untuk diriku sendiri.

Masih banyak lagi sebenarnya. Terima kasih sebenarnya terlalu ringan diucapkan untuk kebaikan kalian. Semoga kita selalu diberikan jalan yang terbaik, di jalan kebenaranNya.

Selagi tulisan ini dibuat masuk pertanyaan dari kalian ” Kak, gaya normal itu bukannya selalu berlawanan arah dengan berat ya?”

Padahal baru kemarin kalian pulang. Semangat belajar! Semoga usaha kita diridhai dan diberkahi olehNya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s