Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

“Mamak jangan panjang was-was. Pepatah orang Mengkasar sudah cukup; anak laki-laki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang. Kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan laar robek, itu lebih mulia dari pada membalik haluan pulang.”

Kutipan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, novel lama karya HAMKA. belum habis dibaca, namun, seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, novel ini adalah novel roman yang membuat sesak dada pembacanya. bedanya, ini bukan sekedar novel roman, tapi juga sindiran akan adat minang. ada juga yang berpendapat bahwa novel ini sindiran politik dan menjadi perseteruan Pramoedya dan Jassin.

Menurutku pribadi, novel ini kaya akan bahasa dan makna. penggunaan kata-kata lama membawa nuansanya tersendiri, menenggelamkan pembaca ke alam masa buku ini ditulis. terlalu penuh dan panjang tulisan ini jika semua kutipan yang menarik dituliskan di sini. terlalu miskin kata-kataku untuk berusaha menggambarkan buku ini.

 

*bagi yang enggan membaca, novel ini sudah diadaptasi ke layar lebar, dan ulasannya bisa dibaca di sini

Iklan

2 pemikiran pada “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

  1. Gue udah baca dua kali, dan masih belum dapet di bagian mana sindiran politiknya ._.
    dari majalah yang gue baca (yang edisinya spesial membahas Buya Hamka), polemik politik antara Buya-Soekarno paling pas Buya Hamka mendukung (dan mengawasi) tulisan Moh. Hatta (Demokrasi Kita) supaya dimuat di majalah yang Buya pimpin waktu itu, dan tulisan ini yang persisnya menyindir Soekarno. Serius, bagian mananya sih? Yang bagian Padangpanjang kecolongan sama guru ngaji komunis? (Tapi kenapa kenanya ke Bung Karno?). Masih belum dapet sampai sekarang ._.

    (Kan kalau yang perseteruan H.B. Jassin-Mbah Pram kan karena novelnya dituduh plagiat (itu gue ngerti).)

    • Jadi, terlepas maksud hamka, yg merasa ini nyindir soekarno adalah pram cs. Asumsiku, salah satunya adalah saat musyawarah terbatas, yg cuma musyawarah di namanya aja. Mirip dg banyak keputusan soekarni, misalnya membubarkan panitia sidang konstituante sepihak, dll. Menurutku, sih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s