Aceh tidak tahu terima kasih

kalau ditanya,

apa Bahasa Inggrisnya ‘terima kasih’?

thank you”.

Bahasa Arab-nya?

syukran“.

juga dalam berbagai bahasa lainnya, danke, arigatou, nuhun, dan lain-lain. tapi kalau ditanya, “apa Bahasa Aceh-nya?”

sebagian orang akan menjawab “teurimong geunaseh” atau “teurimong gaseh”. namun benarkah? salah! maksudku, ‘teurimong gaseh’ adalah terjemahan harafiah dari ‘terima kasih’, namun frase teurimong gaseh aslinya tidaklah ada di Bahasa Aceh! unik kan? jauh berbeda dengan bahasa lainnya yang hampir pasti memiliki padanan kata terima kasih dalam bahasanya masing-masing.

apa ini karena orang aceh tidak tahu terima kasih? bisa jadi, kalau kamu hanya berotak-setengah, terlalu cepat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan asumsi semata-mata. kalau orang aceh tidak ramah, tentu tak akan keluar hadih majaMeunyoe hate hana teupeh, padi bijeh dipeutaba. Meunyoe hate ka teupeh, bue leubeh han meuteumee rasa’, yang berarti ‘kalau hati tidak tersakit, biji padi pun ditawarkan. kalau hati sudah tersakiti, nasi tambah pun tidak berasa apa-apa’

dalam kesehariannya, berbeda dengan kebiasaan di (pulau) jawa yang terbiasa mengucapkan ‘terima kasih’ sehabis transaksi jual beli, orang aceh aslinya sangat asing dengan kebiasaan ini. sehabis jual beli, pembeli berpamitan cukup dengan mengucapkan “ka beh”, yang berarti “sudah ya”. begitu juga dalam hal-hal tolong menolong sehari-hari. baru dikemudian hari, setelah asimilasi budaya, orang-orang mulai mengucapkan “makasih beh”. seumur hidup, aku belum pernah menemukan orang aceh yang menggunakan kata “teurimong gaseh” dalam keseharian.

bagaimana dengan saat ditolong orang? tetap saja, aku tidak pernah mendengar padanan kata terima kasih dari bibir orang-orang. yang keluar, biasanya “Alhamdulillah”, tidak lebih. mungkin bagi non-aceh hal ini dianggap tidak menghargai pertolongan orang, tapi toh, tidak ada yang tersinggung dengan hal ini di Aceh. istilahnya, sudah sanger, sama-sama ngerti, kalau semua hal itu ditakdirkan Allah, dan saling tolong-menolong juga karena Allah.

tapi bukan berarti orang Aceh tidak tahu terima kasih, bukan. justru ada kebiasaan yang menurutku sangat unik dalam hal berterima kasih bagi orang Aceh. saat benar-benar merasa terbantu, orang Aceh akan mengucapkan terimakasihnya, tanpa kata terima kasih. biasanya, ucapan terima kasih dituturkan melalui doa-doa, semisal “beumurah raseuki” –semoga dimudahkan rejekinya–, “beupanyang umue” –semoga dipanjangkan umurnya–, “beumeubahgia” –semoga berbahagia–, dan sebagainya.

namun, doa-doa itu memang tidak selalu dilantunkan. bukan orang aceh tidak ramah atau pelit berdoa, juga bukan karena tidak berterima kasih. menurutku, ini sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi. semakin banyak penawaran, maka semakin rendah nilai barang. dasar orang aceh suku pedagang, hukum ini juga dipakai dalam mengucapkan terima kasih. you only say it when you mean it.

semoga bermakna

ps: teurimong geunaseh adalah terjemahan yang salah dari ‘terima kasih’. seharusnya, teurimong gaseh, karena teurimong geunaseh secara harfiah berarti ‘terima kekasih’ :))

pps: hadih maja “meunyoe hatee han teupeh …” ada versi lainnya, yaitu “meunyoe hatee ka teupeh, bu leubeh han dipeutaba. menyoe hatee han teupeh, boh kreh jeut taraba”. artinya silakan cari sendiri :))

Iklan

5 pemikiran pada “Aceh tidak tahu terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s