Anak nakal itu, ada! (1)

pernahkah kamu bertanya,

banyak yang mengatakan “anak nakal itu tidak ada, nakal itu hanya masalah cara pandang saja”, tapi kenapa kejahatan anak dan/atau remaja kian marak?

jangan melarang anak, biarkan anak belajar sendiri dari konsekuensi, tapi kenapa rebellion atau pembangkangan semakin terjadi?

pernahkan berpikir,

pola pengajaran guru semakin menarik, tapi adab terhadap guru semakin luntur.

guru tidak diperkenankan menghukum, tapi bullying semakin menakutkan.

maka sadarilah, nakal itu bukan sekedar persepsi, misalnya dengan mengatakan “anak yang memukul temannya itu tidan nakal. ia anak yang berani, tapi keberaniannya pada arah yang salah”. anak nakal itu ada dan harus disadari oleh semua pendidik, terutama orang tua. yang perlu diperhatikan, menyadari anak nakal tidak sama dengan melabeli anak sebagai anak yang nakal.

mengapa ada anak yang nakal, dan ada yang tidak? anak, sebagaimana manusia lainnya, mempunyai kebutuhannya sendiri. secara emosional kebuthan anak ada tiga:

menyadari kemampuan diri, yaitu kelebihan dan kekurangannya.
kesalahan umum yang sering dilakukan pendidik adalah membandingkan anak yang satu dengan anak lain, padahal potensi tiap anak beda.

“lihat tuh abangmu, umur segini dia udah bisa *masukkan kemampuan*. kamu juga harusnya bisa dong.”

selain itu, banyak juga orang tua yang memaksakan kemampuan anak.

“duh kok diajarin ga ngerti-ngerti sih? kamu kan kelas satu, masak membaca aja gak lancar?”

tahukah kamu? menurut Kak Tresno (1998)kebanyakan orang yang sakit jiwa di RSJ Malang justru orang-orang yang berpendidikan tinggi. lah kok orang pintar sakit jiwa? ternyata, setelah dicari penyebabnya, mereka adalah orang-orang yang tidak menyadari kelebihannya, merasa diri tidak berguna, tidak bisa apa-apa. semua dimulai dengan pola didik dan pola asuh yang salah. anak yang menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya, maka akan tumbuh menjadi manusia yang tidak rendah diri, minder, malu.

kebutuhan kedua adalah interaksi yang bermartabat dari keluarga dan lingkungannya. interaksi yang bermartabat akan menanamkan rasa percaya, jujur, pada diri anak.

pernahkah kamu melihat. anak yang dekat sama orangtuanya, namun tidak memiliki rasa hormat/percaya pada orang tuanya?

kedekatan dipupuk dengan interaksi, namun interaksi yang tidak bermartabat akan menghasilkan anak-anak yang lemah, khawatir, takut. misalnya orang tua yang sering membohongi anaknya dengan janji-janji yang tidak ditepati.

“jangan nangis nak, besok kita jalan-jalan ya”

“enggak, ayah gak pergi kok. tapi kamu tolong ayah ya, tolong ambilkan anu di belakang”. kemudian saat anak pergi, ayahnya sudah ke garasi. saat anaknya kembali mengambilkan barang tadi, ayahnya sudah menghilang dari rumah.

bahkan, hal seprti ini sudah jauh-jauh hari dilarang oleh Rasulullah saw(1), kenapa masih dilakukan?

kebutuhan anak yang ketiga adalah sumbangsih diri, bagaimana membuat anak berkntribusi dalam berbagai kegiatan sehingga ia merasa berguna, merasa di-“orang”-kan. hal ini dengan memberi peran bagi anak dalam berbagai urusan sehari-hari sesuai umurnya. misalnya, saat ayah membongkar peralatan elektronik, maka anak mengambilkan peralatan bak asisten dokter bedah. anak yang hanya didiamkan saja, tidak diajak terlibat, justru akan tumbuh menjadi anak yang pasif. apalagi jika ia sampai terus-terusan dilarang membantu, kecuali hal yang memang berbahaya baginya, maka ia akan merasa tidak berguna.

tiga kebutuhan ini, apabila tidak dipenuhi, maka akan sebab-sebab kenakalan. apa saja sebab itu? nantikan di lanjutan tulisan ini 🙂

tulisan bersumber dari catatan pribadi kajian cisangkuy, 30 September 2014, dengan pembicara ustadz M. Faudzil Ahim.

(1) Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu telah meriwayatkan hadits dari shahabat Abdullah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: “Pada suatu hari ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di tengah-tengah kami, (tiba-tiba) ibuku memanggilku dengan mengatakan: ‘Hai kemari, aku akan beri kamu sesuatu!’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada ibuku: ‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab: ‘Kurma.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu maka ditulis bagimu kedustaan.” (HR. Abu Dawud bab At-Tasydid fil Kadzib no. 498, lihat Ash-Shahihah no. 748)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s