Islam Tidak Perlu Dibela!, ?

Alkisah, di suatu malam seperti biasa, tersebutlah seorang anak manusia, sebut saja fatah, yang membaca sebuah cerpen yang disebarkan oleh temannya di dunia maya. inti cerpen itu adalah, ‘pilpres ga ada kaitannya sama kejayaan kemenangan islam. kalaupun ada, Islam tidak perlu dibela, cukup Allah yang membela!’ katanya. ‘siapa kamu sok-sokan membela, apa kamu ragukan kekuasaan Allah dalam membela!? apa kamu ragukan janji Allah bahwa Islam pasti berjaya!? mending kamu urusi saja shalatmu, sudah benar apa belum. juga ibadah-ibadahmu’ katanya lagi. tentu tidak dengan nada demikian, tapi kira-kira itulah nada tersirat yang disampaikannya.

bukan, kita tidak akan membahas pilpresnya. topik pilpres memang gurih, renyah, tapi makanan senikmat apapun akan membosankan disajikan berulang kali, dan banyak dari kita sudah muak dengan topik ini. mari kita bahas pernyataan si empunya cerpen.

‘Allah menjanjikan islam pasti berjaya.’

setuju. tidak ada ketidaksetujuan di sini tentunya.

‘Allah Maha Kuasa, tidak perlulah Islam kita bela, cukup Allah yang membela.’

terlepas benar-tidaknya, timbul pertanyaan; ketika suatu saat islam berjaya, di mana kah posisi kita? apa kita termasuk orang yang memperjuangkannya, atau pun sekedar bertepuk tangan? semalas apa kita, berpangku tangan hanya bertepuk tangan dengan mengatakan ‘ah, islam sudah pasti menang’? apa bedanya dengan Bani Israil yang berkata “pergilah kamu Musa berperang dengan Tuhanmu, kami akan menunggu di sini”. atau dengan kata lain ‘hei, pergi sana perang sendiri (berdua dengan Tuhanmu. nanti kalo udah menang panggil ya’.

malas, benar-benar malas. kebanyang ga, gimana kalau jaman dulu, para sahabat berkata ‘ah, udahlah. ga usah berperang. toh suatu saat islam pasti menang’. atau para wali songo, ‘ah, ngapain kita susah-susah naik-turun gunung keluar-masuk hutan buat dakwah, toh nanti juga suatu saat islam akan menang di sini’. tidak usah jauh-jauh ke mereka lah, nanti katanya tidak relevan, coba lihat saja ke turki beberapa tahun silam, saat krisis ekonomi. bandingkan dengan sekarang, mungkinkah kondisinya seperti sekarang jika para muslim di turki tidak berjuang? bagaimana perempuan dilarang menggunakan jilbab di institusi pemerintahan dan pendidikan, ekonominya hancur, korupsi jadi kewajaran, inflasi gila-gilaan, hutang luar negeri menumpuk, dan sebagainya, dan seterusnya.

‘Urus saja shalatmu, ibadahmu! khusyu’-kan dulu shalatmu’

Aneh, bukankah bahkan Ali ra tidak mampu untuk terus-menerus shalat khusyu’?

Ah, ini memang pernyataan klise. paham ini bukan pertama kali dan bukan baru-baru ini muncul kok. tahu dari mana paham ini berasal? perkenalkan, Snouck Hurgronje, orang belanda. dialah orang belanda yang mempelajari islam lebih dalam dari kebanyakan muslim, sampai berguru beberapa tahun di Mekah sana. bukan, bukan untuk berislam, tapi untuk mencari kelemahan muslim nusantara, terutama Aceh yang begitu gigih berjuang melawan Belanda.

usut-diusut, ternyata, menurutnya, semangat pejuang sangat tinggi karena mereka, meminjam bahasa beliau, “fanatik” terhadap agamanya, Islam. oleh karena itu, masih menurut beliau, ada tiga hal yang harus dilakukan di Hindia Belanda;

1) untuk peribadahan, maka mereka harus dibebaskan sebebas-bebasnya. jangan dibatasi, karena apabila hal ini diganggu mereka akan mengamuk sejadi-jadinya.

2)untuk gerakan-gerakan islam yang bersifat sosial, maka mereka harus dipuji dan didukung. namun sambil tetap diawasi, terutama untuk gerakan dalam bidang ekonomi. ya, ekonomi. bukankah banyak orang fakir menjadi kafir karena kelemahan ekonominya? ekonomi adalah kekuatan.

3) untuk gerakan-gerakan islam politik/ideologi, maka ini harus dihancurkan sehancur-hancurnya! agar mereka tidak dipengaruhi pemikiran-pemikiran luar, agar tidak bersatu dan melawan.

maka, hei kau yang membatasi islam sebatas ibadah saja, malu lah. bahkan Kakek Snouck lebih paham darimu bahwa islam bukan sekedar peribadahan saja.

jika islam sekedar peribadahan, tentu Yusuf as tidak akan meminta jabatan bendahara. dan beliau tidak akan mampu menyelamatkan mesir beserta seluruh rakyatnya dan dan rakyat negeri-negeri tetangganya dari bencana paceklik tujuh tahun berturut-turut. tentu juga islam bukan sekedar kekuasaan, karena Rasulullah menolak ketika ditawari menjadi pemimpin seluruh kabilah arab asal berhenti menyebarkan Islam.

Beribadah itu bagian islam, tapi islam tidak hanya sekedar peribadahan. Jika Islam sekedar peribadahan, tentu tidak akan ekonomi Islam. jika sekedar peribadahan, tidak akan ada larangan riba, larangan berjudi, larangan menipu. jika Islam sekedar peribadahan, tidak akan ada perintah menjadi pemimpin yang adil, bertetangga dengan baik, menjenguk orang sakit, tolong menolong, mencegah dan memerangi kejahatan.

tidak. Islam adalah prinsip hidup, termasuk diantaranya keadilan dan ke-egaliteran. dan ini tidak hanya untuk muslim, tapi untuk seluruh manusia. cara apa pun yang baik yang dapat menghantarkan ke sana, maka itu adalah cara Islam.

makanya jangan lagi teriak “tapi ini kan ekonomi, ini bukan Islam!”, “tapi ini kan politik, apa hubungannya dengan Islam!”, “tapi ini kan pengetahuan, tidak ada hubungannya dengan Islam!”. Islam adalah cara hidup dan jalan hidup, tidak mengenal dikotomi seperti itu kawan. jika dengan ekonomi islam bisa ditegakkan, amka itu adalah islam. jika dengan politik islam bisa ditegakkan, maka itu adalah islam. jika dengan pendidikan dan kesehatan islam bisa ditegakkan, maka itulah islam.

sekarang pertanyaannya, siapa kamu yang mengkotak-kotakkan dan membatasi ajaran Allah yang Maha Bijaksana dan maha Tahu hanya sebatas ritual peribadatan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s