bebas, terikat?

benarkah bebas itu bebas?

apakah bebas itu sebebas-bebasnya?

jika bebas benar-benar sebebas-bebasnya, apakah ia kebebasan?

apakah domba yang berkeliaran bebas di padang rumpu tanpa pagar maupun anjing penggembala, bebas?

 

katanya, Amerika itu negara kebebasan, tapi kok masih ada polisi? nah, apalagi Indonesia?

Di PPKn pas SMP, diajarkan bahwa negara Indonesia menganut paham bebas-bertanggungjawab. kok bebas punya tanggung jawab, bukannya itu berarti ga bebas?

mari kembali ke kasus domba tadi. menurut prof. Yohanes Surya di salah satu tulisannya, ada konsep yang namanya bebas-terikat dan terikat-bebas. hah? maksudnya?

bebas-terikat, adalah kondisi di mana kamu –atau domba– seakan-akan bebas, padahal ia sebenarnya terikat. misalnya, si domba yang berkeliaran bebas tadi, walau kelihatan bebas sebenarnya ia terikat. oleh apa? oleh rasa takut akan serigala yang bisa sewaktu-waktu menerkamnya. atau hyena, harimau, dan sebagainya. ia juga terikat oleh rasa dingin angin malam dan rasa dahaga tanpa telaga.

sementara rekan-rekannya, domba di balik pagar, terikat oleh batas pagar sang penggembala. bahkan diawasi dengan dengan anjing penjaga. tapi mereka bebas makan dengan tenangnya. bebas dari intaian serigala. bebas juga berlarian, selama amsih dalam batas.

begitu juga manusia. kita boleh makan apa saja, sebebas-bebasnya; rendang, gorengan, ayam kalasan, kari kambing, dll yang enak-enak. tapi keudian kita akan terikat dengan kolestrol, darah tinggi, diabetes, dan bermacam penyakit lainnya. makannya bebas, tapi aktivitas kita diikat dengan penyakit dan kelemahan. mau jalan-jalan gampang capek. mau kerja gampang ngantuk.

sebaliknya, kita bisa terikat ga boleh terlalu banyak makan ini-itu, harus makan ini-itu walau ga suka, harus olahraga sekian kali tiap minggu, harus tidur jam segini sampai segini, dan lainnya. tapi kita bebas menajlani hidup dengan sehat, ceria, produktif. kita bisa makan apa saja tanpa takut sakit ini-itu kambuh. kita bebas beraktivitas sepadat-padatnya, tanpa khawatir ini-itu.

begitu juga beragama. bisa aja kita ga menjalani perintah agama, seks bebas misalnya. tapi sebenarnya kita terikat oleh rasa takut akan PMS, terikat dan dikendalikan oleh nafsu yang tidak terkontrol, dsb. atau, kita bisa terikat dengan peraturan-peraturan agama, mesti menikah, mesti menafkahi keluarga, memperlakukan keluarga dengan baik, dsb. tapi hidup kita tenang tanpa khawtir yang aneh-aneh.

jadi pilih yang mana? itu terserah diri anda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s