Saksi Demokrasi

ada yang berbeda 9 April lalu. aku, Muhammad Fathahillah Zuhri, menjadi saksi keberjalanan demokrasi di negeri ini. diawali tawaran seorang kawan, aku menjadi saksi keberjalanan pemilu di TPS 029 cipaganti, mewakili PKS, Partai Keadilan Sejahtera.

katanya, setidaknya di ITB, mahasiswa itu harus netral. omong kosong. tidak ada yang namanya netral di dunia ini. semua orang memiliki pilihannya masng-masing, termasuk untuk tidak memilih atau tidak peduli. maka di sini, sebagai generasi muda Indonesia, tahun ini aku memilih untuk terlibat aktif mengawasi keberjalanan pemilu. kenapa sebagai saksi PKS? sederhana, karena cuma itu tawaran yang ada. tidak ada, atau setidaknya aku tidak tahu, partai lain yang merekrut saksi dari golongan mahasiswa. padahal, generasi muda akan menggantikan yang tua, maka sudah saatnya generasi ini semakin peduli. melelahkan pastinya, tapi banyak pelajaran yang bisa didapat di sini.

hari h, saksi diminta hadir pukul 6.55. aku tiba di lokasi pukul 6.35, saksi pertama yang hadir. tak lama datang saksi dari PDIP, seorang ibu muda, dan dari Golkar, Siswa kelas 3 SMA. dari obrolan kita, ternyata si ibu sudah langganan mengawasi TPS ini sebagai saksi PDIP di pemilihan-pemilihan sebelumnya, sehingga saya asumsikan beliau kader PDIP. menarik, karena ini pertama kalinya aku bertemu orang (yang saya anggap) kader PDIP. tambah menarik lagi, karena saksi dari Golkar masih kelas 3 SMA. selama ini, anggapan saya Golkar hanyalah partai orang-orang tua produk Orba. tentu tidak tertutup kemungkinan kedua orang ini bukan kader, karena memang lazimnya saksi dioprek dari luar karena kekurangan tenaga, sepertiku.

7.30 pembacaan sumpah panitia baru dimulai, molor karena di peraturan jika saksi belum lengkap maka boleh ditunda hingga 7.30. kita menunggu saksi dari partai demokrat yang tak kunjung datang. ternyata memang tidak datang, entah kenapa. padahal, malam sebelumnya saya sempat melihatnya menyerahkan surat mandat ke ketua KPPS. ia baru datang saat aku akan pulang selepas menyerahkan surat mandat.

sekitar 7.30 juga, datang saksi dari PAN membawa surat mandat yang seharusnya diserahkan paling lambat hari sebelumnya. sebenarnya panitia berhak melarang ikut, namun awalnya ketua KPPS memutuskan memberi kelonggaran. habis menyerahkan surat mandat, saksi dari PAN ini izin untuk nyoblos di tps asalanya, dan baru kembali pukul 13 saat penghitungan suara akan dimulai. terang saja dilarang ikut oleh panitia, karena saksi seharusnya mengikuti dari pukul 7 hingga selesai, tidak boleh terlambat, tidak boleh digantikan orang lain. lah ini orang udah dikasih keringanan malah makin menjadi, ibarat belanda minta tanah.

ada beberapa hal yang menarik di keberjalanannya. beberapa orang bahkan sudah datang ke TPS pukul 7, sebelum pencoblosan dimulai saking antusiasnya. setelah diberitahukan pencoblosan belum dimulai, sebagian pulang dulu namun masih ada beberapa yang menunggu. walau kata berita sosialisasi pemilu buruk karena banyak masyarakat mengira tanggal 9 kemarin kita bakal mencoblos calon presiden, bukan caleg.

ada nini-nini umur 89 tahun yang masih mau nyoblos. bandingkan, berapa banyak mahasiswa yang ngurus a5 aja malas? nini ini beretnis cina. harus diakui, selain karena di cihampelas ini banyak etnis cinanya, mereka juga lebih menjaga kesehatan tubuh sehingga tetap terlihat bugar di hari tuanya. hal yang patut ditiru; kepedulian terhadap indonesia dan kepedulian akan kesehatannya. selain beliau, sebenarnya ada juga kakek-nenek lainnya, tapi tidak ada yang setua beliau.

ada juga teteh-teteh gahul yang datang memilih bersama keluarganya. ketika nama dan nomornya disebutkan panitia, ternyata setelah dicek si teteh ini bukan teteh-teteh, tapi bocah kelahiran 95. anak 95, udah milih. jadi berasa tua, haha. semakin diingatkan udah mulai diusir secara halus dari kampus, mohon doanya untuk TA. šŸ˜

oh iya, karena waktunya yang pagi, aku menjadi saksi dalam kondisi belum sarapan. untungnya, di sana disediakan banyak kue-kue dari panitia tps dan dari pks. walau ga sarapan, totalnya aku dapat 5 kali makanan berat (2 dari tps, 3 dari pks) dan dua kotak kue dari pks, serta berbagai macam kue dari tps. ah ya, hanya dari 3 partai hanya pks yang menyediakan 3 kali makanan berat untuk saksinya, sampai-sampai si bapak ketua KPPS bercanda mengatakan “wah ini saksi dari PKS sesuai namanya, sejahtera beneran”. :))

dalam keberjalanannya, kita melakukan peghitungan suara dengan santai dan tidak terburu-buru, dengan jeda setiap satu penghitungan. kuasa Allah, aku di tempatkan di tps 029 terletak di sdn cipaganti, yang berada pas di depan mesjid cipaganti, dan jeda selalu bertepatan di waktu-waktu adzan. jadi mau shalat berjamaah di mesjid gampang tinggal ngesot. yang lebih menarik, seusai penghitungan dan pengecekan, panitia selalu menyocokkan lagi data dengan data yang kupunya, jadi aku ga malu-maluin status mahasiswa lah ya. šŸ˜€

dari total 276 pemilih terdaftar, hanya 150 yang menggunakan hak pilih, itupun 10 diantaranya tidak terdaftar di DPT namun menggunakan KTP dan/atau KK. walau hanya 150 orang, tapi penghitungan dan pembuatan BAP baru selesai sekitar pukul 23.30, ga kebayang kalo pemilihnya 300-400an bakal selesai jam berapa.

di tps ku, perolehan suara dipimpin oleh gerindra (>30%), PDIP (20%), dan PKS (12%). menarik, hasilnya tidak mencerminkan qc di berbagai siaran berita. ah ya, dari 3 partai ini mayoritas pemilih memilih partai bukan calon, berarti masyarakat lebih mengenal partai/citra partai yang dipilih dibanding calon. suatu hal yang dibenahi. kenapa aku bedakan partai/citra partai? citra partai adalah apa yang masyarakat persepsikan melalui media massa, dan partai adalah apa yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-seharinya.

sekedar jadi saksi saja sangat melelahkan, nongkrongin kotak suara dari jam 7-23.30. posisi saksi ini sangat krusial, karena dari cerita dan berita banyak terjadi kecurangan pemilu, untungnya tidak terjadi di tps yang kujaga.Ā  ternyata, banyak kasus-kasus pencurian surat suara, surat suara yang sudah dicoblos, bahkan hingga jual-beli suara antar partai/caleg yang terjadi di lapangan.karena itu, idealnya tiap partai menempatkan saksi-saksinya di tiap tps, namun tidak semua partai punya sumber daya untuk melakukan dan membiayai saksi untuk 516.142. karena itu, aku maklum jika ada usul saksi dibiayai pemerintah. harga yang dibayar pasti mahal, namun lebih dari sebanding untuk mengawal keabsahan pemilihan orang-orang yang menentukan arah gerak indonesia 5 tahun ke depan. tentu pembayarannya tidak melalui partai melainkan dari panitia TPS agar tidak digelapkan.

all in all, aku tidak bisa menikmati gratisan maupun diskon dari berbagi restoran dan kafe seperti bober dan starbucks bagi orang-orang yang sudah memilih. tapi menurutku dibandingkan dengan makanan yang kudapat, gaji sebagai saksi, dan pelajaran-pelajaran di dalamnya menjadi saksi pemilu adalah pengalaman yang sangat berharga. bagaimana hari pemilumu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s