missconception of passion (1)

sebelum dimulai, OOT dulu lah. judulnya sengaja dibikin bahasa inggris biar berirama. udah mikir seminggu lamanya, masih belum ketemu judul yang pas dalam bahasa indonesia. bahasa indonesianya, salah kaprah tentang hasrat, dan mari kita mulai…

Bahaya 1: “Kalau mau sukses, ikuti passion-mu!”

passion, yang berarti hasrat, kata-kata seirama sering kita dengar akhir-akhir ini, baik dari motivator betulan maupun dari motivator kacangan. dari kawan maupun dari sekdar kenalan. tapi benarkah?

ada sebuah retorika menarik yang pernah kubaca dari Pak Mohammad Fauzil Adhim. benarkah sukses harus sesuai hasrat? atau sebaliknya, benarkah hasrat membawa pada kesuksesan? bahkan yang lebih mendasar lagi, apa arti hasrat, dan apa arti sukses?

bagaimana jika, passion hasrat seseorang adalah menjadi bartender, dan ia kaya raya karena mengikuti hasratnya, itukah kesuksesan? bagaimana, jika berperang dan membunuh orang adalah cara seseorang untuk bersenang-senang, dan ia menjadi tentara dengan segala bintang jasa karena karenanya? itukah arti sukses yang sebenarnya? atau jika hasrat seseorang justru berlenggak-lenggok di atas catwalk misalnya? atau bahkan, bagaimana jika dengan mengikuti hasratnya, seseorang justru memilih menjadi homoseksual?

menjadi seorang muslim, sukses kita tentu bukan sebatas dunia. harta, tahta, wanita, ketiganya bukan tujuan utama. beberapa contoh ekstrim luar biasa di atas, walaupun bukan masalah bagi mereka yang kafir, tapi menjadi masalah besar jika anda muslim yang benar. kita manusia, spesies terpintar di dunia. ada alasan kuat kenapa kita diciptakan dengan logika; untuk memakainya. sebagaimana seorang ibu melarang anaknya yang demam untuk makan es krim, begitulah logika kita berguna mengawasi “hasrat” kita saat terasa menyimpang.

logika ada bukan sebatas pembeda. ia ada untuk menjaga kita, dari diri kita.

namun, bahaya miskonsepsi salah kaprah hasrat tidak berhenti sampai di situ. bahaya selanjutnya, justru lebih universal. berbahaya bukan hanya bagi muslim saja, tapi bagi kualitas anda sebagai manusia pada umumnya.

bahaya 2: “passion adalah hal yang kamu senangi. untuk menjadi sukses, lakukan hal yang kamu senangi!”

lihatlah Maldini, Evan Dimas, atau Zulfiandi. mereka adalah orang-orang yang sukses karena mengikuti hasratnya! begitu juga Muhammad Ali dengan tinjunya, dan pemain-pemain kelas dunia lainnya. olah raga apa saja tinggal sebut, semua sama; orang-orang yang sukses karena melakukan hal yang disenanginya. begitu juga para girlband/boyband jepang maupun korea; orang-orang yang sukses karena melakukan hal yang disenanginya. begitu juga pengusaha-pengusaha sukses kelas dunia.

terdengar menyenangkan? ya, hal ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan. bodohnya, banyak orang yang percaya hal ini. banyak mahasiswa, aku dulu salah satunya, yang dengan naif mengatakan “ini passion-ku!”. bodohnya, orang yang sama mengatakan “ah, ini bukan passion saya!” pada hal-hal yang tidak disukainya.

seorang mahasiswa yang “hasratnya” jadi pengamat politik, menjadikannya sebagai alasan untuk tidak terlibat di bidang lain, pengabdian masyarakat misalnya. mereka yang berniat jadi pengusaha, menelantarkan akademiknya dengan satu mantra sakti yang sama “ini bukan passion saya!”. lembek.

pemahaman “hasrat=hal yang disenangi” adalah pemikiran orang-orang picik dan lembek. mereka yang hanya mau senang-senang saja, dan ketika dihadapi dengan cobaan menjadi lembek dan mundur ke belakang.

zulfiandi anak supir bus. main bola mungkin sesuatu yang ia senangi, tapi tidak semuanya dilalui dengan bersenang-senang. zulfiandi dulu tidak mampu beli sepatu sendiri. main bola memang menyenangkan, tapi untuk bisa bermain dengan senang di level asia, latihan yang dilalui lebih keras tentunya. kita kebanyakan hanya mendengar kabar kesuksesannya, tapi coba tanyakan berapa kali ia cedera. berapa kali ia harus istirahat. berapa banyak teman-temannya yang memiliki hasrat yang sama yang berhenti begitu saja.

artis-artis korea keliatan selalu tersenyum di depan tv, tapi coba tanya berapa jam mereka harus berlatih setip hari. koreografi, lagu baru, pola makan, diet, dan lain-lain. mereka adalah orang-orang yang sukses di atas bertumpuk-tumpuk orang yang gagal di bidang yang sama.

jadi sebenarnya bagaimana cara untuk sukses? atau kembali ke titik awal; apa sebenarnya hasrat?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s