Ayah Lumpuh Dek

ulee lheue, banda aceh

minggu, 30 juni 2013

di sela-sela cuti liburan ke sabang dan mengurus kepastian beasiswa dari pemda Aceh, aku menyempatkan diri berkunjung ke ulee lheue, ke tempat ayah. keluargaku memang terbilang unik dalam memanggil keluarga besar. suami almarhumah bibi ku, dipanggil “ayah”, karena memang mereka dipanggil “ayah” dan “bunda” oleh anak-anaknya. sementara yang lain dipanggil dengan istilah aceh seperti “ayah cut”, “abu cut”, atau istilah-istilah lainnya, “apak”, “ayah adek”, dll. orang tuaku sendiri dipanggil “papa” dan “mama” sama sepupu-sepupuku.

keluarga ayah adalah salah satu saudara favoritku dari keluarga papa dari dulu.waktu kecil, asal ke banda aceh, walau menginap di rumah mujit (nenek) yang sebenarnya ga jauh dengan rumah ayah, aku pasti menyempatkan nginap di sana dua-tiga hari. sosok ayah yang terlihat tinggi-besar olehku yang masih SD, dan posisinya sebagai salah satu imam mesjid ulee lheue, salah satu mesjid tertua di banda aceh, semakin menambah wibawa yang terasa darinya.

menjelang akhir masa SD ku, ayah mulai sakit –yang saat aku tidak tahu apa– dan semakin jarang bergerak. kerjanya hanya banyak berzikir dan berdoa, sambil bermain dengan cucu-cucunya yang masih kecil, akbar dan naura, yang merupakan keponakan favoritku dulu. tapi raut kebahagiaan masih tetap terpancar di wajahnya. maklum, saat itu keluarganya memang lagi ramai-ramainya.

2004, tsunami, kesedihan melanda karena kehilangan istri, anak, dan cucunya, akbar dan naura. di tengah cobaan yang berat, ada berkah tersendiri baginya; tubuhnya yang terkena stroke dan tidak bisa berjalan mendadak membaik di hadapan gelombang. perlahan, ia mulai bisa berjalan meski harus memakai tongkat dengan tangan yang bergetar kuat. masih teringat senyum bahagianya saat tinggal dirumahku sehabis tsunami, senyum yang mengambang karena ia bisa shalat jumat lagi, walau sambil duduk.

perlahan-lahan, tanda-tanda kesembuhan itu mulai pudar. sudah dari beberapa tahun lalu, kondisi tubuhnya memburuk dan ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. 30 juni kemarin, ingatannya masih cukup kuat untuk mengingatku, walau kakinya sudah kurus hanya tulang terbalut kulit, lumpuh.

30 juni, aku sampai ke rumahnya malam, sekitar jam 9. saat itu ayah sudah tidur, tapi tak lama, mungkin karena suara cucu-cucunya yang kecil-kecil bermain di depan kamar, ia terbangun. aku duduk di sampingnya, mengajaknya bicara dan basa-basi tentang keluargaku.

tak lama aku diam, kehabisan bahan. dan ayah membuka mulutnya dan mengatakan “ayah udah lumpuh dek, ga bisa apa-apa lagi”.

aku diam. bingung harus bereaksi bagaimana. aku merasa, ayah memasuk fase denial orang-orang yang sakit atau yang merasa hidupnya tak berguna lagi.

“ayah udah lumpuh dek, ga bisa apa-apa lagi” ulangnya.

“udah ga bisa shalat lagi” sambungnya dengan mata yang berkaca-kaca. mungkin hanya harga dirinya yang menahan air mata di depanku. laki-laki ini, di ambang batas kehidupannya, masih memikirkan shalat, kewajiban yang sering dilalaikan kita yang sehat.

“ga apa-apa yah. kalo ga bisa berdiri ayahkan masih bisa shalat tidur” hatiku campur-aduk, bingung harus menjawab apa lagi.

“ga bisa lagi dek. ayah sekarang shalat cuma dengan isyarat. ga bisa apa-apa lagi. ayah udah ga bisa apa-apa lagi” katanya dengan mata yang semakin berkaca-kaca.

“ga apa-apa yah, Allah kan Maha Tahu. Allah pasti ngerti kok kemampuan ayah” jawabku. pikiranku semakin berkecamuk, mata mulai berkaca-kaca.

“ayah sekarang cuma shalat dengan isyarat dek, ga bisa lagi” lanjutnya. badannya bergetar ketika berbicara.

“ga apa-apa yah, Allah pasti ngerti. Alhamdulillah ayah masih ingat shalat, sementara banyak orang di luar sana yang sehat udah ga shalat” saat ini, harga diriku yang bertindak untuk mencegah air mata tumpah.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?

—–

1 Juli, senin subuh

pulang subuh berjamaah de mesjid yang memang di sebrang rumah, sayup-sayup terdengar suara ceramah dari radio di kamar ayah saat kebanyakan orang memilih tidur, menunda subuh.

Iklan

3 pemikiran pada “Ayah Lumpuh Dek

  1. baca judulnya aku kira…
    semoga sakitnya menjadi penggugur dosa bagi beliau. syafahullah, ‘ayah’ fathah.
    nice post, Tah. bener-bener jadi pengingat buat kita. d^^b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s