Riksa, persen dan anak kecil

jadi gini, seminggu lalu aku main2 ke riksa di sangkuriang (buat yg gtw bisa cek ceritanya di twitter #riksa).

ada anak sd yg belajar tentang persen. nah, jadi habis diajarin, sampai akhir keliatannya dia belum mengerti 8,4 sama dengan berapa persen. ia bisa merubah persen ke bilangan biasa, tapi tidak sebaliknya.

ya udah, aku coba jelasin “persen artinya perseratus. jadi dibagi seratus. kalo misalnya x/100=8,4 maka x sama dengan? ” dahinya berkerut. dia mencoba menebak-nebak, pertanda tetap belum ngerti.

oke, ganti contoh, “misalnya 250%, berarti 250/100, =2,5. berarti, 2,5=250%. coba kalo misalnya 2,73= berapa persen?” dia masih belum ngerti.

coba lagi dengan penjelasan logis lainnya, dia tetap belum ngerti. mukanya menunjukkan ia tidak mengerti, tidak tertarik, dan ingin cepat-cepat selesai agar bisa cepat bermain.

sempat terpikir untuk ngejelasin “kalo rubah ke persen tinggal kali seratus aja” kaya dulu diajarin pas sd. tapi aku takut dia cuma ngerti cara ngerjain soalnya, bukan jawabannya.

aku jadi ikutan bingung mikirnya. ya udah, udah hampir maghrib, percobaan terakhir. kali ini sambil tersenyum, agar ia tidak merasa tertekan, merasa tidak mampu, dan berbagai perasaan inferior lainnya karena belum juga mengerti.

“jadi, 100/100 kan sama dengan 1 ya?” ia mengangguk. kali ini dahinya tidak berkerut.

“100/100 sama dengan 100% kan?” jawab dengan anggukan lagi.

“berarti 1 sama dengan 100% ya? kalo 1=100%, 3 sama dengan berapa persen?”

matanya melirik ke samping sedetik, berpikir. “300%?” cobanya. tapi dengan nada yakin.

“sip, pintar..” kelihatannya ia mulai ngerti.

“kalo 6,3?”

“630%” mukanya semakin yakin. ada senyum tipis di bibirnya.

“0,73?”

“73%”

dilanjutkan beberapa kali lagi, sampai aku yakin tertanam kuat diingatannya. “siip, ternyata bisa kan?” tanyaku. ia mengangguk dengan senyum malu-malu, dan berpamitan untuk main.

ternyata, memang tidak ada anak yang tidak cerdas. barangkali, sebenarnya itu adalah salah guru dan orang tua yang tidak mengerti karakter si anak. namanya anak-anak, cara pikir dan intelijensinya berbeda. kebanyakan kita menjelaskan dengan bahasa kita, bukan dengan bahasa yang dimengerti si anak. dalam hal ini, saya mencoba menjelaskan konsep persen dalam bahasa mahasiswa, bukan bahasa manusia.

tambah lagi, tak jarang masalh di luar proses belajar mengajar dan kejenuhan guru dalam mengajar tersirat di wajahnya, yang disalahartikan sebagai muka menyalahkan kemampuannya oleh si anak. huuf… masih banyak yang harus diperbaiki. impian membangun sekolah masih jauh. jauh, tapi bisa dicapai. insya Allah.

Iklan

Satu pemikiran pada “Riksa, persen dan anak kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s