Meniru Matahari

Matahari tetap gagah di sore hari di lhokseumawe, walau beberapa anak manusia meneriaki teriknya. Minggu lalu, ia masih malu-malu. Membuat ibu-ibu berwajah kelabu mengkhawatirkan jemurannya, harap-harap cemas menanti sinarnya.

Sadarkah kawan, cuaca semakin tak menentu? Katanya, bumi kita semakin panas. Banjir, topan, badai, yang semakin sering katanya efek dari memanasnya bumi. Tapi matahari? Ia tak peduli. Tetap bersinar nun jauh disana sebagaimana biasa.

Berapa juta anak manusia mengutuki panasnya. Berapa juta manusia lainnya mengharap cahaya. Heh, ia tak peduli. Tetap diam, sendiri. Tetap menyinari. Percuma kita memaki, ia tak akan mengurangi panasnya untuk menyenangkan kita yang di bumi.

Ingatkah kawan? perubahan iklim dan cuaca bukan akibat matahari, tapi perputaran bumi. Terkadang dipengaruhi bulan sebagai satelitnya. Tapi sama, mereka juga tidak peduli apa kata manusia-manusia di bumi.

Percuma memaki, meratapi, memohon, mereka tetap teguh tak bergeming. Ya, karena mereka hanya mentaati perintah Rabb-nya. Itu satu-satunya yang penting. Barangkali, ini yang sering kita lupakan, hingga kita hilang jati diri?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s