Ini Abad Kita Kawan!

kamis, 26 April 2012

Jam 9.00, kuliah medan dan elektromagnetik, yang biasa disebut “medan” saja, digabung ke kelas Pak hermawan. Pak Supri, dosenku yang biasa, berhalangan hadir karena ayah beliau wafat. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. semoga keluarga yang ditinggalkan dianugerahi kesabaran dalam menghadapi cobaan yang ada.

Di kelas, kuliah berlangsung seperti biasa. aku, yang sudah beberapa minggu ini kehilangan gairah belajar, hanya menatap ke depan dengan pandangan serius. maklum, belum mengerti pelajarannya.

Di tengah-tengah pelajaran, entah bagaimana, Pak Her berkomentar “kalian sekarang sudah enak. Ini abad kalian, kalian bisa melakukan segalanya. teknologi kita tidak tertinggal lagi.  dulu, teknologi gap-nya masih besar, masih jauh. buku masih mahal, persebaran masih terbatas, bahan kuliah masih dikit, dosennya jarang masuk. kalian sekarang buku sudah semua ada. bahkan di internet banyak bahan-bahan kuliah gratis. kalo ga ngerti dijelasin sama dosennya, bisa liat langsung video dosen-dosen MIT.”

“ya, kalian sekarang semua ada. yang ga ada cuma aktu ya?” sindirnya sambil tersenyum sinis, mengejek genarasi kita termasuk saya, yang harus diakui, masih banyak menzalimi diri sendiri dengan membuang-buang waktu dengan hal yang tidak bermanfaat. harus diperbaiki.

“seharusnya generasi kalian adalah generasi yang memimpin Indonesia menaklukan dunia. tidak ada lagi alasan untuk tidak sukses. semuanya memiliki kesempatan untuk menuju puncak. memang, perjalanan untuk menuju puncak pasti susah dan mendaki. namun selama kita tetap melakukan perjalanan, suatu saat kita pasti akan sampai ke puncak.”

“tapi kalo ga mati duluan ya” candanya. “tapi kalaupun kalian meninggal sebelum mencapai puncak, jangan lupa, dalam agama orang yang berusaha mencapai puncak sekuat tenaga dan meninggal sebelum sampai, sama saja dengan orang yang sudah mencapai puncak.”

“tapi sayangnya, tidak semua orang mendengar nasihat yang diberikan kepadanya. banyak yang mengabaikannya, tapi tidak melupakannya. seiring berjalannya waktu, mereka akan menyadari kebenaran nasihat-nasihat yang pernah didengarnya. tapi waktu sudah berjalan. masa-masa untuk berjuang sudah lewat. sekarang tak ada lagi yang bisa mereka lakukan”

ceritanya kemudian berlanjut ke beberapa mahasiswanya dulu yang memegang posisi-posisi penting di Indonesia. saya kurang menginga detailnya siapa dan kapan terjadinya. tapi akan saya coba ceritakan.

kapal-kapal pelayaran ekspor-impor indonesia, yang mayorias dikuasai perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dan Eropa, mengambil untung dengan keterlaluan di Indonesia, sampai 200%. tarif yang harusnya dengan seudah mendapat keuntungan normal dengan harga 75$, di naikkan hingga 150$. dengan harga ini, mereka mendapat keuntungan hingga 5 trilliun pertahun dari Indonesia.

seorang pejabat, saya lupa apa menteri atau wamen, mengetahui hal ini. beliau mengumpulkan forwarder-forwarder ini dan meminta mereka untuk menurunkan harga menjadi 75$, harga yang sebenarnya tidak akan memberatkan kedua belah pihak. namun, bukannya malah menurunkan, mereka malah mengancam akan memboikot pelayaran dari dan menuju Indonesia agar Indonesia kollaps.

Tapi beliau tidak patah arang. beliau menyurati perusahaan perkapalan dari negara-negara non-Amerika Serikat dan Eropa, menanyakan kesiapan mereka untuk menggantikan posisi kapal-kapal Amerika Serikat dan Eropa yang menetapkan keuntungan seenak hatinya. mereka semua menyatakan siap.

Data-data ini sengaja dibocorkan ke media. isu ini ter-blow up habis-habisan. kalang-kabutlah perusahaan-perusahaan Eropa dan AS tadi. merkea mengirim perwakilan untuk negosiasi. mereka menawarkan agar harga bolehlah diturunkan, tapi cukup menjadi $100, dengan iming-iming akan memberi uang puluhan juta dollar. “no”, itulah jawabannya. dengan tegas beliau menolak penawaran mereka.

tapi saya kurang memerhatikan akhir ceritanya, apakah  happy ending atau si orang tadi diberhentikan dari posisinya, karena tekanan dari atas.

dan dilanjutkan beberapa kisah heroik beberapa para pengambil keputusan, yang menunjukkan karakter yang kelihatannya semakin pudar dewasa ini.

“saya sudah 30 tahun mengajar di sini (ITB). sudah banyak saya melihat karakter-karakter mahasiswa di era yang berbeda-beda. yang dulunya begini, tapi sekarang kok lain, kok berubah.”

“pendidikan sekarang polanya sudah bergeser. kalo dulu pendidikan itu lebih mementingkan karakter. kejujuran, integritas, dan lain-lain. sekarang personaliti yang lebih dipentingkan secara ga langsung daripada karakter.”

karakter, menurut beliau, adalah sikap seseorang yang selalu dibawanya kapan saja dan di mana saja. sementara personaliti, sesuai dari kata asalnya dalam bahasa latin, persona, berarti topeng. seperti halnya topeng, sikap yang ditunjukkan hanyalah kepura-puraan saja. misalnya pada sales. sebesar apapun beban masalah yang dihadapinya di keluarga atau di pekerjaan, di depan pelanggan ia harus tetap tersenyum. begitu juga aktor.

“kalau saya ga yakin semua kalian yang ada di sini bisa menolak tawaran puluhan juta dollar tadi. masalah tanda tangan aja, masih ada yang pura-pura kok. itu kan cuma maslah kecil, cuma nilai” sindirnya lagi sambil tersenyum khas.

ya, ini abad kita kawan. Indonesia tidak lagi ketinggalan start seperti sebelumnya. tergantung kita, apakah Indonesia akan ketinggalan finish seperti sebelumnya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s