Thifan: Bukan Beladiri Biasa

turgulya,udah setaun setengah aku ikut beladiri thifan po khan aliran tsufuk. tapi jangan dikira udah jago, secara selama satu setengah taun aku baru naik tingkat sekali (idealnya 4 bulan sekali). tapi alhamdulillah sekarang latihannya sudah semakin istiqamah. kalo dulu datang ke lanah (tempat latihan) sebulan cuma sekali, sekarang insya Allah rutin setiap minggu. kadang-kadang malah numpang latihan di lanah orang 😀

cukup lama keinginan menulis tentang beladiri ini terpendam, dan memang sengaja dipendam. dulu aku takut sok keren nulis ngaku-ngaku ikut beladiri, eh tau-taunya berhenti. tapi yang namanya kebaikan kan lebih baik disebarkan. mudah-mudahan tulisan ini juga jadi salah satu alat untuk meningkatkan keteguhan hati agar istiqamah mempelajari ilmu ini.

akhir-akhir ini situasi bandung semakin rawan. mulai dari berita ditemukannya mayat yang dimutilasi, perseteruan antar geng motor, maupun perampokan di transportasi umum. bahkan pelaku sampe bawa pistol segala. suka tidak suka, kemampuan melindungi diri sendiri dan orang lain itu perlu, dan belajar beladiri adalah salah satu jalannya. ditambah lagi, ada riwayat;

Dari sahabat Abu Hurairah, Bersabda Rasulullah“Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”HR. Muslim

hal yang paling membedakan thifan adalah tausyiahnya, yang biasa dilakukan sebelum dan/atau sesudah latihan. sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita tak hanya melatih tubuh, tapi juga jiwa kita. karena itu, thifan, sebagai beladiri muslim, menekankan akan pentingnya hal ini.

nasehat yang paling saya ingat dan paling sering diulang-ulang oleh lanah saya adalah potongan QS Ibrahim (14:7), yang berbunyi, “Lain Syakartum la azidannakum wala in kafartum inna ‘adzabi lasyadiid,”

terjemahan bebasnya, “jika kamu bersyukur, maka akan Kutambah nikmatKu padamu. dan jika kamu kufur, maka sesungguhnya azabku sangat pedih”.

sebagai tamid (murid), kami sudah diberikan Allah nikmat sehat dan kesempatan sehingga bisa latihan. diberikan nikmat niat sehingga mau latihan. diberikan ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu thifan. kembali mengingat potongan ayat tadi, nikmat ini harus disyukuri. bagaimana bentuk mensyukurinya? yaitu dengan latihan. sesuai janji Allah, semakin sering kita mensyukuri, semakin sering kita latihan, ditambahkanlah nikmatNya berupa tubuh yang semakin sehat, semakin kuat, semakin disiplin, lebih berani, lebih percaya diri, pribadi yang lebih tenang, lebih dewasa.

dapat dilihat, mindset atau niat ketika latihan berbeda. bukan sekedar hobi, mengisi waktu, atau sekedar menjaga kebugaran, tapi karena ibadah. mensyukuri nikmatNya. bukan sekedar pengen jadi jagoan.

Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari [Kitab Bad’i al-Wahyi, hadits no. 1, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab al-Imarah, hadits no. 1907]).

tidak salah berlatih karena pengen jago. tapi setelah jago, mau jadi apa? mau digunakan untuk apa? hampa. berbeda dengan berlatih berniat untuk mensyukuri nikmat Allah, itu ibadah. yang namanya beribadah itu untuk mencari ridhaNya. dan yang namanya ibadah, itu tidak berhenti sampai maut menjemput.

Sabda Rasulullah saw: “Wahai manusia, laksanakanlah amalan-amalan menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sebelum kamu merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah ialah amalan yang ringan namun berterusan.”

( Hadis Riwayat Muslim )

 

tausyiah-tausyiah seperti inilah yang membuat hari semakin mantap meneruskan belajar thifan 😀

Iklan

11 pemikiran pada “Thifan: Bukan Beladiri Biasa

  1. merah2 seqagamnya jadi kayak tapak suci tp tifan apakah ada induk organisasinya yg tersendiri atau ikut IPSI ya? syukron. jazakallahu khoiron katsiro

  2. mohon info. saya di pasuruan jawa timur. kalau ada beladiri tifan ditempat saya kira2 dimana? syukron. jazakumullohu khoiron katsiro

    • Afwan baru di balas.. Setau saya di jawa timur belum ada untuk thifan tsufuk,, kalau mau tanya untuk thifan yang lain bisa melalui kaskus dengan judul thread “thifan po khan” 🙂

      • baru tau tentang beladiri thifan ini…
        mau tanya, apa thifan ini hanya diperuntukan untuk kaum adam sajakah??

      • Beladiri thifan tsufuk hanya untuk laki-laki saja, untuk perempuan namanya putri gading. Sumber keilmuannya sama, hanya saja jurus thifan lebih keras dan bertenaga, sementara jurus putri gading lebih lembut dan memanfaatkan momentum lawan. Tujuannya dibedakan, agar laki-laki tidak jadi lemah gemulai dan perempuan tidak jadi macho seperti laki-laki 😀

      • ooh bgtu..pantas tdk mlihat ada perempuan dsn?? apa yg membedakan thifan dgn beladiri yg lain..karate,pencak silat or taekwondo??slain ada tausiyah nya 🙂
        lg2 br dgr putri gading 😀
        putri gading dmn yg sdh ada?? apa hanya ada dipesantren2??

      • Kebanyakan lanah yang ada latihan thifan, ada juga latihan putri gading, walau mungkin waktunya berbeda atau tempatnya agak tertutup. Masalah keilmuannya, tiap beladiri memiliki karakteristik masing2. Yang paling membedakan thifan tsufuk adalah, dalam setiap latihannya dipastikan tidak bertentangan dengan akidah dan syariat islam, dan pola latihannya sudah disesuaikan dengan ilmu kesehatan sehingga tidak ada gerakan yang bisa merusak tubuh. In sya Allah nanti saya tulis tentang dua topik ini secara lebih detail.

      • syukron untuk informasinya ^_^
        cukup besar keiingintahuan ttg kedua beladiri ini…spertinya memang mempunyai hal yg berbeda..tdk hanya sekedar menyehatkan jasmaniah tp rohaniah pun mjd sehat 🙂

  3. Ping balik: Thifan: Bukan Beladiri Biasa | RIISISAMFARO (RIsalah ISlam IStimewa AManah FAthonah ROhmah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s