Bukan Cerita Laskar Pelangi

hei pembaca! tau laskar pelangi? kurasa hampir semua orang pernah baca novelnya, atau nonton filmnya. yaa, minimal pernah dengarlah. kisah kali ini, adalah pertemuan saya dengan seseorang yang memiliki pengalaman ala laskar pelangi, jika tidak lebih memprihatinkan.

ada yang spesial di sebuah mesjid di bandung beberapa hari lalu. malam tepatnya. beberapa pemuda, berkumpul menghabiskan malam bersama, dengan niat karena Allah. selain beberapa kajian-kajian dasar, ada juga sesi ngobrol-ngobrol santai, saling berbagi untuk motivasi.

sebut saja, namanya ihsan. ini bukan nama sebenarnya, tapi diambil dari kata artinya baik (lengkapnya cari sendiri ya). pertama bertemu, kesannya biasa saja. timid, aku lupa bahasa indoensianya. pendiam dan seperti orang yang manut-manut saja. pertemuan selanjutnya, ternyata dibalik ke-timid-an yang ditampilkan di luar, ia memiliki jiwa kepemimpinan yang cukup oke, penilaianku dari amanah yang dipegang olehnya, dan kesuksesannya dalam mengemban amanah itu. walau tak lepas dari tim yang mendukungnya, tentunya.

ketika sharing, dengan sedikit dipaks temanku, si ihsan ini menceritakan pengalamannya, yang ternyata mengubah suasana dan kedewasaan pemuda-pemuda sejak malam itu.

saat sd, pengalamannya benar-benar mirip ama laskar pelangi. sekelas, muridnya cuma 7 orang. kalo pagi kelasnya dipake murid kelas 1-3, kalo sore dipake kelas 4-6. gedungnya juga parah, bobrok. buku? jangan harap ada. pensil pun tak punya. sehari-hari, mereka menggunakan bagian belakang daun pisang (yang lebih putih), dan jarum. ya, jarum digunakan untuk menggores-gores daun pisang untuk catatan. uang sekolah dibayar sendiri dengan jalan mencari ikan. dengan semangat menuntut ilmu, ia dan teman-temannya menikmati mencari ikan sambil belajar matematika dengan ikan-ikan yang didapat.

jarak dari rumahnya ke sekolah jauh, tapi aku lupa berapa pastinya. dengan medan yang tak santai. tidak seperti lintang, tokoh laskar pelangi, ia bahkan tak bersepeda.keluarganya? ayahnya lumpuh, entah apa penyebabnya. ibunya menjadi tulang puggung keluarga.  bahkan, katanya, rumahnya jikalau ketiup angin pasti roboh. lingkungan sekitarnya juga tak terbiasa dengan budaya sekolah. dari anak-anak mereka terbiasa bekerja.

sambil tersenyum kecil, ia menceritakan bagaimana sekolah-sekolah lain selain mengejek jika mereka ikkut lomba. bagaimana tidak, seragam yang sama selalu dipakai setiap harinya, tentu kucel penampilannya. alasnya hanya sendal jepit, sendal yang biasa digunakan di wc-wc, katanya. tapi jangan tanya prestasinya. tiap lomba, mereka yang memenanginya.

berlanjut ke smp, dari tujuh, hanya ia yang melanjutkan ke smp. awalnya, tidak terpikir keinginan untuk melanjutkan sekolah. bukan karena tidak menyukainya, tapi karena ia paham kondisi keluarganya. namun guru-gurunya bersemangat urunan, untuk memaksanya masuk sekolah. sampai beberapa waktu lamanya, ia tetap menggunakan celana sekolah khas anak sd, merah. mencari ikan tetap menjadi andalannya dalam membayar spp.

di tengah pencarian ilmu, satu lagi ujian datang menguji. kakaknya, akan menikah. karena ketiadaan uang, ia sempat hampir terpaksa berhenti sekolah, dan menjual bahkan seragamnya demi pernikahan kakaknya. entah bagaimana detailnya, kami tidak bertanya lebih jauh. kakaknya yang lain, sambil menangis memohon maaf padanya, dan melarangnya berhenti sekolah. aku lupa bagaimana detailnya, pokoknya ia tetap bersekolah. tak lupa menorehkan berbagai macam prestasi di sepanjang jalannya.

akhir smp, lagi-lagi ia sempat memikirkan untuk berhenti. pertimbangan yang sama, biaya, yang makin mahal semakin tinggi jenjang pendidikannya. guru-gurunya, seperti guru-guru sebelumnya, urunan dan memaksanya untuk melanjutkan sekolah. pertolongan Allah pun datang. salah satu sekolah favorit di provinsinya, yang isinya adalah anak-anak pejabat dan orang-orang kaya, digratiskan semua biayanya mulai tahun itu oleh gubernur. termasuk seragamnya.

di smu, bukan berarti perjuangan menjadi makin santai. seingat saya, katanya di asrama dibangunkan jam 4, atau jam 5. dan mereka belajar sampai jam 6 sore. belum selesai, malamnya, mereka lanjut lagi belajar sampai jam sepuluh. untuk kelas olimpiade, belajar lagi sampai jam dua belas. begitu setiap harinya. prestasinya, seperti biasa, makin berderet-deret.

kelas tiga, semanga belajarnya turun. ia terlihat malas-malasan. motivasinya hilang, mau ke mana seusai smu nanti. untuk kuliah, sempat terberit di pikiran tentunya. tapi, mau apa, uang kuliah tiap tahun makin meningkat. salah satu gurunya, walau mendukung, masih berkata kamu mau gimana kuliah kalo ga ada uang.

sebenarnya, ia tidak malas-malasan, katanya. hanya saja, ia tidak ingin belajar di depan orang lain. ia tetap belajar, tapi ketika orang lain sudah tertidur seusai shalat malam. barangkali kentuk di siang hari yang membuatnya terlihat malas-malasan, pikirku.

lagi-lagi, pertolongan Allah datang. tahun-tahun sebelumnya, tiap angkatan hanya ada satu orang yang melanjutkan kuliah ke itb. dan pada tahun ketika dia kelas tiga, pertama kalinya mereka mengadakan seminar tentang kuliah di itb, caranya, dan beasiswa-beasiswanya. hingga merantaulah ia ke bandung, ke itb.

“sebenarnya saya ada uang waktu ditanya sama guru itu” katanya. hasil kemenangan-kemenangannya sewaktu kuliah. tapi uang itu selalu diberikannya ke orang tua. seluruhnya. berapa yang orang tuanya kasih kembali kepadanya, ia terima dengan senang hati. tidak dikasih, tidak apa-apa juga. terakhir, uangnya ditabung olehnya. bukan buat beli hape atau laptop, tapi untuk mengaliri listrik di rumahnya.

“saya kasian liat adek kalo nonton tv dari rumah tetangga yang satu ke yang lainnya” katanya, sambil tetap merendah seperti biasa.

“dari kecil, saya tidak pernah minta uang ke orang tua” akunya.

walau masuk teknik, cita-citanya ingin menjadi menkokesra, agar tak ada lagi anak-anak yang mengalami perjalan hidupnya, katanya.

semoga cita-citanya dikabulkan, atau Allah memberikan posisi itu kepada orang yang lebih baik, doaku dalam hati.

*penulisan ini mendapatkan izin yang bersangkutan, dengan merahasiakan namanya. hal-hal yang bisa memperjelas identitasnya, seperti kejadian, tanggal, tempat, nama-nama orang yang ikut mendengar, i’tikaf dalam acara apa, fakultas, jurusan, asal daerah, sengaja dirahasiakan.

beberapa, orang, terlihat menahan tangis, mendengar pengalamannya, walau beberapa tidak lagi bisa menyembunyikannya. ternya, hal yang seperti itu masih ada di jaman sekarang, dan cukup dekat dengan kita.

Iklan

4 pemikiran pada “Bukan Cerita Laskar Pelangi

  1. waaaah,,, perjalanannya lebih keras lagi!!! dibanding kita (saya khususnya)
    ya ya ya,, keberadaan org seperti ini memang masih bnyak di sekitar hnya jarang yg terdeteksi,, karena memang mayoritas mereka terkung-kung maindsetnya utk tidak melanjutkan pendidikan..

    keberadaan org-org seperti ini menjadi warna tersendiri.. tugas kita memberikan kepedulian khusus utk mereka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s