ikhlas, benarkah hanya cinta?

postingan kali ini didasari dari khutbah jumat lalu di mesjid salman ITB. seperti biasa, saya tidak kenal siapa yang menceramah dan track record-nya. yang menarik dari ceramah kali ini, adalah sebagian dari isinya, yang sangat mengganggu saya.

dikatakan bahwa ihlas itu, menurut ulama sufi, bertingkat-tingkat menjadi beribadah karena takut, harap, dan cinta. nah, cinta inilah yang dikatakan ikhlas tertinggi. bahkan, sebagian sufi berpendapat tidak dikatakan ikhlas jika beribadah melainkan karena didasari rasa cinta kepada Allah subhana wa ta’ala.

masih menurut beliau, ulama fiqih tidak setuju akan pendapat ini, mereka (ulama fiqih) memakruhkan pandangan ikhlas seperti ini.  sayangnya, kesemua argumen di atas tidak disebutkan sumber-sumber yang menguatkan, dan beliau menyambung ke topik lain.

namun, masih ada yang mengganjal di hati kecil ini. suatu tempat di memori, terus memberontak mengganggu pikiran, meminta perhatian. bunyinya, “benarkah seperti itu? kau tahu kau pernah membaca tidaklah begitu, disertai dengan sumber yang menguatkan”. tidak perlu lama, segera teringat di mana. namun yang lama, adalah mencari bukunya lagi. beruntung seorang sahabat memilikinya.

bukunya berjudul “saksikan bahwa aku seorang muslim”, karangan salim a. fillah. tanpa izin sang pengarang, saya kutip sebagian kecil bukunya di sini, halaman 163-165, semoga dimaafkan dan diizinkan. bukankah ilmu itu harus jelas sumbernya?

Takut, harap, dan cinta adalah pilar-pilar ‘ubudiyah yang saling menyangga, kait mengait, tak bisa ditinggalkan salah satunya. ia bukan jenjangan yang bertingkat-tingkat, bukanlah satu pilar ditempuh dengan meninggalkan pilar sebelumnya. bukan hierarki, tapi kesatuan makna yang indah.

tunggu sebentar… mungkin antum pernah mendengar syair ini:

Allah.. jika aku sembah Engkau karena takut pada nerakaMu masukkan saja aku kedalamnya

jika aku sembah Engkau karena berharap syurgaMu jauhkan saja aku darinya

tetapi jika aku menyembahMu karena cinta.. maka cintaMulah yang kuharapkan

penisbatan syair ibadah cinta ini kepada Rabi’ah Al Adawiyah tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. ya, tidak ada bukti sejarah yang mendukungnya. filologi, ilmu tentang sanad, tak bisa melacaknya.jadi, bukan berarti takut pada Allah itusemata mental budak yang rendah. bukan berarti mengharap surga itu mental pedagang yang culas. dan bukan pula, orang yang hanya punya cinta selalu lebih mulia.

tentang hal ini, dengan mengejutkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: barangsiapa menyembah Allah dengan cinta saja maka ia sungguh zindiq. barangsiapa menyembah Allah dengan harap saja maka ia murji’. barangsiapa menyembah Allah dengan takut saja maka ia haruri. mukmin bertauhid menyembah Allah dengan ketiganya; takut, harap, dan cinta.

zindiq adalah sebutan bagi orang yang tertipu oleh perasaan dan angan kosongnya. coba analisis kalimat yang muncul dari seorangyang baru bergabung dengan thariqat shufi berikut ini. “dalam dzikirku aku mengucap Allah.. Allah.. Allah.. lalu aku tenggelam dalam nikmat munajat.. rasanya seperti memasuki sebuah alam tanpa dimensi.. hanya cahaya.. kuat.. dahsyat.. begitu agung.. begitu kudus.. sebuah ekstase suci.. sampai tanpa sadaraku hanya mengucap love.. love.. love.. ya. Tuhan telah mewahyukan padaku, bahwa DiriNya adalah cinta.. cinta.. selain itu sungguh tak berarti.”

kira-kira bagaimana? bisikan Allah atau bisikan syaithan?

murji’ adalah orang yang menganggap iman cukup dengan pembenaran lisan dan memudah-mudahkan. kalau sudah syahadat ya sudah. mukmin. pasti masuk surga jadi begini boleh, begitupun boleh. nggak masalah kalu sudah mengatakan beriman pasti masuk surga.

sedang haruri adalah sebutan lain khawarij, kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar karena berlebihan dalam rasa takut. sebuah ilustrasi menarik tentang khawarij diberikan oleh Rasulullah. para sahabat, kata beliau akan menganggap kecil dan remeh ibadah mereka sendiri kalau melihat kesungguhan khawarij dalam ibadah. shalat mereka, puasa mereka.. tetapi kata beliau Sahalallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka –orang-orang khawarij– keluar dari agama seperti anak panah meluncur dari busurnya. mengapa, mereka berlebihan merentang busur itu. terlalu kuat, terlallu ketat.. dan terjadilah pada masa lalu, mereka mengkafirkan semua sahabat yang bertahkim di Daumatul Jandal, mengkafirkan sahabat Rasulullah: ‘Ali, Mu’awiyah, “amr bin Al Ash dan orang-orang yang bersama mereka..

Na’udzubillah…

seorang mukmin bertauhid, menjadikan takut, harap dan cinta ebagai energi jiwa. ketiganya. galian yang tak habis-habis untuk menyalahidupkan tanggungjawab ‘ubudiyahnya. di sinilah ia dapati interaksi yang indah dengan Allah.

kami takut, kami harap kepadaMu

suburkanlah cinta kami kepadaMu

kamilah hamba yang mengharap belas dariMu

(Raihan & m.Yassin Sulaiman: I’tiraf)

sejauh ilmu saya yang cetek, inilah sumber yang paling memuaskan yang bisa saya dapat, barangkali ada yang bisa melengkapai atau mengoreksi?

Iklan

Satu pemikiran pada “ikhlas, benarkah hanya cinta?

  1. Ketika antum mengikuti apa yang salaim afiah tuturkan berarti antum memiiki teman yang sama dan sepikiran, yaitu ane. setidaknya ane. dan pasti ada yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s