“Ooh, orang aceh?”

kira-kira kalimat itulah yang terlontar dari orang yang saya kenal di luar aceh, ketika tahu saya orang aceh. memang, walau seratus persen darah aceh tampang saya kurang mendukung. mata sipit, kata orang kalo ketawa tinggal garis. untung kulit agak itam, jadi ga disangka cina.

pertanyaan di judul tadi biasanya dilanjutkan oleh salah satu atau kedua pertanyaan ini;

“waktu tsunami kena ga?”

atau pertanyaan bernada sama, hanya lain bahasa, yang kemudian saya jawab “nggak. kotaku di pesisir tapi arah gelombangnya alhamdulillah ga kemari”. kadang ditambah dengan detail cerita bahwa aku baru masak mi pas gempa. menuruti perintah mama, aku langsung lari keluar rumah, tapi gak lama balik lagi untuk ngambil semangkok mi yang baru jadi dan menikmatinya di halaman.

pertanyaan kedua, sialnya biasanya ga jauh-jauh dari;
“pernah nyoba ganja ga?” atau “denger-denger di sana ganja dipake buat masak ya?”

ataupun pertanyaan lainnya yang ga jauh dari ini. awalnya, dengan polosnya aku cuma bilang “gak pernah” sambil nyengir atau senyum seperti biasa. kadang dilanjutkan dengan sedikit klarifikasi  cerita-cerita ganja di aceh.

mulai dari “yang digunakan di makanan adalah bijinya, bukan daunnya, dan itu juga jama dulu kali”
*orang aceh menggunakan  kata ‘kali’ sebagaimana orang jawa (pulau jawa, termasuk jakarta dan lainnya) menggunakan kata sangat/banget

atau cerita “di aceh ga ada ladang ganja, ganja tumbuh subur di tanah-tanaha hutan pegunungan aceh”.

tapi sialnya, entah kenapa pertanyaan kedua ini pasti ditanyakan, bahkan sepertinya lebih banyak yang menanyakan pertanyaan ini. dan jujur saya jengkel karenanya.

seriously, what the hell wrong with you people?

masalah tsunami, okelah aku ngerti. itu kejadian besar, ga cuma di aceh, tapi juga negara lain. korban jiwanya, di aceh aja sekitar 250ribu orang, ga ada satu pun mesjid yang runtuh walau bangunan ambruk ga bersisa, banyak cerita-cerita keajaiban orang-orang yang selamat, dan banyak cerita menakjubkan lainnya dengan tema tsunami. walaupun kejadiannya udah 7 tahun lalu, tapi sampai sekarang masih banyak orang, termasuk aku, yang emrsa itu beru terjadi beberapa waktu lalu. terlepas dari banyaknya perubahan yang diakibatkan di sosial masyarakat maupun pengembangan aceh. termasuk MoU Helsinki.

tapi, masalah ganja ini yang aku gak habis pikir. citra aceh di luar benar-benar seakan-akan ganja itu komoditi nomor satu di aceh. seakan-akan tiap penduduk nanam ganja di depan rumahnya. jarang kali ada yang nanyain tentang kopi aceh, terlepas dari aceh memasok 40% produksi kopi indonesia, dan di-klaim sebagai kopi terenak (tidak termasuk kopi luwak tentunya) sampai-sampai starbucks dan banyak merk lain juga beli dari aceh.

padahal, bagi orang aceh yang tau sejarahnya, berkata bahwa ganja adalah salah satu teknik pencitraan untuk menjelekkan nama aceh yang saat itu menuntut kemerdekaan karena dirasa dikhianati oleh pemerintah Indonesia. silahkan cari sendiri sejarahnya kenapa, siapa, dan abgaimana. satu hal yang pasti ini bukan terjadi ketika aceh ditarik semua kekayaan dari hasil alamnya ke pusat di jaman Soeharto. ini terjadi jauh sebelum ada Pt. Arun atau pun Exxon Mobil, yang dulunya Mobil Oil, menginjakkan kaki di aceh.

bagi orang aceh, silahkan cari sejarahnya. bagi yang bukan orang aceh, saya sangat menghargai kalian yang tertarik dengan sejarah aceh. bagi yang tidak tertarik, ga masalah itu hak setiap pribadi.

But please, don’t stereotype Aceh with weeds if you don’t even know a thing about it, especially in front of acehnese.

4.08, azan subuh. cukuplah sampai di sini uneg-uneg saya beberapa bulan terakhir ini 🙂

Iklan

10 pemikiran pada ““Ooh, orang aceh?”

  1. padahal, bagi orang aceh yang tau sejarahnya, berkata bahwa ganja adalah salah satu teknik pencitraan untuk menjelekkan nama aceh yang saat itu menuntut kemerdekaan karena dirasa dikhianati oleh pemerintah Indonesia. silahkan cari sendiri sejarahnya kenapa, siapa, dan abgaimana. satu hal yang pasti ini bukan terjadi ketika aceh ditarik semua kekayaan dari hasil alamnya ke pusat di jaman Soeharto. ini terjadi jauh sebelum ada Pt. Arun atau pun Exxon Mobil, yang dulunya Mobil Oil, menginjakkan kaki di aceh.

    silakan cari sendiri sejarahnya? jadi ngapain kasih ulasan kalau disuruh cari? menyajikan opini mesti menyajikan fakta dong. minimal bikinlah tautan ke sejarah apa, sebut buku apa atau gimana.
    saya kenal kawan dari aceh, saya juga lama di aceh. dan mereka gak malu mengakui soal ganja ini, walau mereka juga gak suka kalau aceh di-kriminal-isasi dengan stigma ganja. memang kenyataannya dulu ganja itu ditanam sebagai bumbu di aceh. pun dihisap bukan kayak dihisap anak-anak muda jaman kini. diharamkan ganja secara hukum itu mulai berlaku sejak tahun 70-an. dan itu juga gak terlalu ngefek di aceh. saya penasaran, sejarah mana yang anda maksud? atau jangan-jangan anda cuma gusar saja karena anda sendiri merasa tak enak dengan stigma ganja itu? ganja aceh itu memang terbaik kok. gulai kambing di aceh saja sampai kini masih ada yang diolah pakai bumbu ganja.

    • wah, kok tiba-tiba langsung gigi 3 😀
      ya, memang ganja di aceh ada, dan lebih banyak di daerah lain di Indonesia. mungkin juga ganja aceh terbaik seperti kata anda, entahlah, aku ga pernah nyoba. nah, sama seperti teman-teman anda yang orang aceh, saya uga ngaku kok di aceh ada ganja. sama seperti dengan teman-teman anda, saya juga ga suka aceh di-kriminalisasi-kan dengan ganja. masalahnya, kebanyakan orang yang menanyakan ini ke saya, dalam bahasa anda, mengeluarkan pertanyaan yang meng-kriminalisasikan aceh dengan ganja. ya, saya juga ngerti dan nanggapinnya sambil becanda, tapi tetap aja kan sebaiknya dikasi tau bahwa kenyataannya ganja ga semudah itu didapat, di aceh sekalipun.

  2. iya setuju. aku juga orang aceh dan mamahku bilang keluarga mamahku gak pernah masak pake ganja. kalaupun ada, ya aku gak setuju kalau orang aceh dicap masak pake ganja. sembarangan aja -.- gak punya etika -.-

  3. kalo aku gak tersinggung, krn pada kenyataan nya tanah disana memang subur untuk tanaman jenis ini. tersinggung jika ada berita mengait2an teroris aceh. krn aku lihat member teroris itu bukan penduduk aceh asli. tp lagi2.. brandname A C E H itu kuat sekali. orangaceh.com 😀

    • subur memang. tapi berbeda pernyataan ganja subur di aceh, dengan pernyataan banyak orang aceh jualan ganja. padahal paling satu-dua.

      mirisnya, sekarang sekitar 90% kasus di kejaksaan di aceh adalah narkoba, dan sekarang ga hanya ganja, sudah ada sabu dan ekstasi. ini jelas pengrusakan generasi 😦

  4. aku bukan aceh asli tp mamakku orang aceh, aku pulak dibesarkan dgn adat aceh. mamakku suka kali masak, palage masak gule kambeng atau kare kambeng. gapernahlah tuh mamakku masak pake ganja. emang orang luar aceh sok tau kali tentang aceh, yg jelek-jeleknya aja yg dibesar-besarkan. biasanya orang jawa yg kayak gitu, suka kesel aku.

  5. “….aku baru masak mi pas gempa. menuruti perintah mama, aku langsung lari keluar rumah, tapi gak lama balik lagi untuk ngambil semangkok mi yang baru jadi dan menikmatinya di halaman…”

    BAHAHAHAHAHAHAHA *guling-guling*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s