Di Sepanjang Jalan

Suara motorku berderu pelan, menyusuri belokan-belokan aspal. Coklat kemerah-merahan, tertutupi daun-daun yang bertaburan dari pohon di pinggir jalan. “Pa, daunnya pohon jati hebat ya, mau berkorban menggugurkan dirinya sendiri biar pohonnya tetap hidup” celoteh si kecil sembari kubonceng jalan-jalan keliling komplek perumahan dengan astuti merah, alias astrea tujuh tiga.

Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya. Ah, si kecil, kau begitu dewasa untuk umurmu yang baru 4 tahun, dan aku bangga akan itu.

“Bang, liat tu ada pohon bambu” pancingku, penasaran mendengar apalagi komentar si kecil ini.

“Iya pa. pohon bambu juga hebat lho pa. Batangnya kosong, jadi tetap lentur. kalo ada angin kencang, dia ga akan patah, malah melambai-lambai ngikutin anginnya” cerocosnya panjang lebar.

Ah, lagi-lagi.Setiap hari dari pagi hingga sore kita terpisah demi mencari nafkah. Aku tak tahu darimanakah asal pengetahuanmu itu, mamamu kah?

“tapi pa, kaktus-kaktus mama juga hebat kok. Rela daunnya terganti duri walau dibenci, demi menumbuhi padang-padang pasir yang mati.”

“Papa sendiri paling suka apa Pa?” sambungnya lagi tanpa henti, persis kereta api.

sambil tersenyum tipis, kucoba berpikir ‘tuk menjawab “Hmm, apa ya? Papa paling suka akarnya.”

“Akar apa, akar pohon jati yang keras dan dalam, atau akar pohon beringin yang besar membentang? Sukanya kenapa Pa?” tanyanya lagi tanpa jeda.

“satu-satulah nanyanya” cengirku. “akar ya… semua akar, semua jenis pohon”. aku mengambil napas sesaat, “soalnya akar itu apapun pohonnya tapi fungsinya selalu sama, menopang. tak perlu banyak bicara, tak perlu disadari keberadaannya, tak perlu disinari cahaya, tapi tetap menopang. diam di dalam tanah yang legam menghitam. Dibiarkannya kita manusia berdebat daun mana atau batang siapa yang paling hebat, dan dalam diam dia menjalankan tugasnya. Tidak hanya satu-atau dua akar pohon tertentu, namun seluruh akar yang ada”

menanggapi jawaban panjangku si kecil terdiam sampai akhir perjalanan. bukan membisu, bukan berhenti berpikir tampaknya. mungkin mencoba mencari sisa-sisa hikmah yang masih tersisa di sepanjang perjalanan. Aku juga asyik dengan pikiranku sendiri, tak henti mengagumi mamanya yang mampu mendidiknya menjadi sehebat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s