Balada Berburu Ta’jil

“Duh, masih ada ga ya?” gerutuku dalam hati sambil meliuk-liuk dengan sepeda tercinta menghindari kemacetan. Alhamdulillah akhirnya nyampe juga. Kugembok sepedaku di tengah puluhan motor di halaman masjid itu. Jam di hape masih menunjukkan 17.30 WIB. Ternyata masih lumayan lama juga waktu berbuka.Tanpa berwudhu, karena memang belum batal, langsung kulangkahkan kakiku ke dalam masjid. Widih…., ternyata udah lumayan penuh juga. Banyak orang yang bercakap-cakap di dalam masjid sambil memegang seporsi ta’jil yang dibagikan di tangan masing-masing. Beberapa ada yang membaca Qur’an di shaf depan sambil menunggu buka. Mataku masih mencari-cari orang-orang yang membagikan ta’jil. Ah, ternyata di sana. Kakiku bergegas mengikuti antrian.

Setelah mengambil ta’jil, segera saja kuletakkan tasku dan shalat tahiyyatul masjid. Ya, sebagai mahasiswa rantau aku memang sering berbuka di masjid untuk menghemat pengeluaran, tapi bukan berarti aku lupa cara menghormati Allah ketika masuk ke rumah-Nya. Usai shalat dua raka’at, kulirik jam hapeku sekali lagi. 17. 40… Masih ada sisa waktu sebelum berbuka. lirik kiri-lirik kanan, tidak ada yang kukenal. memang sih, ini pertama kalinya aku berbuka di masjid ini. Dari pada nganggur, kuambil Qur’an di dalam tasku dan kubaca. Walaupun target 1 hari 1 juz udah terpenuhi, ga ada salahnya kan baca lebih? Mumpung ramadhan.

“Allaahu akbar, Alla~hu akbar” adzan maghrib berkumandang. Suara percakapan yang awalnya bising langsung sunyi senyap. Mulut-mulut berganti tugas, menikmati makanan. Tak lama kemudian shalat maghrib pun dimulai. Ar-Rahmaan dibacakan dengan tartil di kedua rakaat. Karena surat ini pikiranku mulai melayang-layang mengingat tingkah laku beberapa mahasiswa yang sering menghambur-hamburkan uang. sementara beberapa mahasiswa, termasuk aku, harus mencukup-cukupkan uang beasiswa yang tak cukup setiap bulannya.

Sebenarnya selesai shalat maghrib aku mau langsung pulang, membawa tubuh kucel yang belum mandi ini untuk berbenah sebelum shalat isya dan tarawih, tapi ternyata di masjid ini ada tradisi membagikan ‘makanan berat’ setelah shalat maghrib. Pikiranku langsung terbagi dua, yaitu “alhamdulillah” dan “kayanya bisa langganan buka di sini nih”. Bersama-sama jamaah lain aku menikmati nasi kotak yang disediakan dengan lahap. sambil bercakap-cakap dengan beberapa jamaah yang tidak kukenal sebelumnya. Nasi kotaknya benar-benar nikmat, isinya banyak, bahkan terlalu banyak, hingga sebagian jamah menyisakan cukup banyak makanan. Untung perut karetku masih bisa menghabiskan jatahku.

ketika selesai, kulihat salah seorang pemuda yang tadi bercakap-cakap denganku mulai membereskan sisa nasi kotak, menumpuk sisa-sisanya yang tidak dihabiskan jamaah ke satu kotak, dan kotak-kotak kosong di tempat lain. “Mau di kemanain nih makanannya?” tanyaku sambil membantunya, yang maksudnya ‘mau dibuang ke mana nih makanannya?’ Ia tersenyum dan menjawab “Mau dibawa pulang untuk sahur, adik-adik dirumah pasti senang, jarang-jarang dapat makanan enak begini.” Aku hanya terpaku tak tahu harus berkata apa. Dalam hati terngiang bacaan imam ketika shalat tadi “Fabi-an yi-aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan?”. Ternyata sentilan ini juga ditujukan untukku.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

M Fathahillah Zuhri

133 10 094

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s