ragamu bukan lagi milikmu

“bangun!” teriaknya.

“hah, apa?” jawabku dengan mata yang berat. ngantuk.

tak jauh dari pinggir kasurku, berdiri seorang nenek renta. napasnya ngos-ngosan, rambutnya yang tipis digerus usia acak-acakan, begitu juga baju lusuhnya. kakinya gemetaran beuraha berdiri walau dibantu sebatang tongkat kayu yang sama tuanya. walau samar-samar masih terlihat bahwa ia pasti wanita yang menawan ketika masih muda. samar, sangat samar.

kelihatan jelas ia diambang kematian, hanya tinggal menunggu hitungan untuk mengakhiri penderitaan yang terlihat jelas pada dirinya. tapi matanya, matanya tajam menatapku.

“bangun! bangkit!” teriak si nenek tua itu. melengkingan, menggetarkan.

“hah? aku ngantuk, biarlah aku tidur lagi sebentar” erangku setengah sadar dan tak peduli tanpa mempertanyakan apa yang dilakukan nenek tak dikenal itu di kamarku. atau bagaimana ia memanjat masuk ke lantai dua. paling mimpi.

“bangun, bangkit, bergerak!” teriaknya dengak suara serak yang makin keras. lengkingannya meninggi, memekakkan telinga.

“aah, ini masih jam 3, aku baru aja tidur jam 2 tadi. diamlah” jawabku dengan nada tinggi. ingin hati ini balas membentaknya tapi kutahan demi kesopanan. walau tidur adab masih mengingatkanku ia adalah nenek-nenek.

“bangun, sialan! dasar tidak tahu terima kasih!” bentaknya disertai pukulan tongkat kayunya ke kakiku.

“kau yang sialan! siapa kau, tiba-tiba datang, mengganggu tidurku, merusak mimpi indahku dan berani-beraninya memakiku! siapa kau?” jawabku terkejut. terkejut bukan hanya karena pukulannya, tapi juga terkejut darimana ia mendapat tenaga sekuat itu memukulku. padahal ia nyaris tak mampu berdiri tanpa bantuan tongkatnya.

“kau yang tidak tahu diri! 18 tahun! 18 tahun kau injak-injak aku, hidup santai di tubuhku, minum dari nadiku, makan dari dagingku, dan sekarang kau tanya siapa aku!? dasar biadab yang tak tahu terima kasih!” bentaknya lagi. namun bentakannya kali ini terdengar lebih karena ia tersinggung, merasa jerih payahnya dilecehkan dan tak dihargai. jerih payahnya, yang tak kutahu pasti apa itu.

dan aku masih terduduk di atas kasur. mematung. mencoba mencerna apa maksudnya. 18 tahun? itu umurku. tak tahu terima kasih? memang apa yang diberikannya? otakku yang kata orang cerdas masih berusaha mencernanya.

“tunggu-tunggu…. kau? pertiwi? ibu pertiwi? maksudku.. indonesia?”

“akhirnya! tak percuma kamu kuliah, otakmu masih dipakai rupanya!” jawabnya. wajahnya yang tadi terlihat ngos-ngosan dan kecewa menjadi sedikit riang. “ayo, sekarang kau sudah tahu, bangunlah!”

“tapi ke mana?” tanyaku. masih belum benar-benar mengerti arti semua ini.

“ke mana!? pertanyaan macam apa itu? kaulah yang harus menuntunku! juga 250 juta penduduk lainnya!”

“tapi aku masih sangat ngantuk, lelah. aku baru saja menyelesaikan makalah-makalah kuliahku. biarkanlah aku tidur sedikit lagi. kita mulai besok saja” jawabku sambil menarik kembali bantal dan selimutku.

“jangan! bangun nak! takkan ada hari esok lagi! kita sudah cukup lama tertinggal!”
teriaknya lagi. wajahnya menjadi gusar, khawatir. seakan-akan menara yang dibangunnya akan runtuh ketika ia baru berpikir akan segera selesai.

“biarkan sedikit lagi. aku tak meminta banyak, dan badanku adalah milikku. sekarang pergi dan temuilah aku beberapa jam lagi di pagi hari” jawabku sambil memasang ipod di telinga agar tidur nyenyak tanpa mendengar lagi ocehan si nenek– si Indonesia.

“jangan nak! bangunlah sekarang! bangun nak! ragumu bukan lagi milikmu” katanya dengan suara yang serak dan hampir habis. matanya mulai berkaca-kaca”. “bangun nak, bangun… ragamu bukan lagi milikmu, ragamu milik 250 juta rakyat yang menunggumu… bangun..” katanya dengan suara yang makin lirih, sambil diselingi dengan isak tangis yang makin menghilang. terduduk diam menatap pasrah punggungku yang tergolek di atas kasur. putus asa, kecewa.

namun aku tak mendengar teriakan-teriakan terakhir itu. apalagi lirih tangisnya. tidak juga sosok putus asanya yang menangis terduduk. aku tetap tidur. terbuai oleh bunga-bunganya. nyenyak. dan tak akan bangun lagi.

Iklan

7 pemikiran pada “ragamu bukan lagi milikmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s