Syukur

Beberapa hari lalu, aku nulis di status fb

“those who search for happiness would lost in never ending journey until they feel contented with what they had”

Dan ada kawan yang nanyain apa maksudnya. Maka aku coba jawab dengan tulisan ini.

Wali kelas kami, Mr. Rifat, yang wawasannya luas beberapa kali pernah cerita tentang swiss, negara yang kalo ga salah di eropa utara ya? Katanya “Swiss itu benar-benar negara mimpi, semua penduduknya makmur dan hak-hak manusia benar-benar dijaga.  Tapi, walau pun orang-orang kaya di sana banyak, Swiss juga salah satu negara yang tingkat bunuh dirinya tertinggi dunia. “

Logikanya, mereka seharusnya hidup bahagia. Mereka mempunyai apa yang kebanyakan manusia idam-idamkan; uang, kekuasaan, kemewahan, dll. Lantas apakah mereka yang bunuh diri ini adalah orang-orang yang ga mampu? Jawabannya tidak.

Mereka yng bunuh diri malah kebanyakan golongan atas, orang-orang yang kaya. Mereka memiliki semuanya, tapi semuanya tak berarti bagi mereka. Istilah bule-nya tired of life. Hidupnya penuh dengan kemewahan, kekuasaan, tapi mereka tidak mampu menemukan arti dan tujuan hidupnya, karena mereka tidak mengenal keberadaan Sang Pencipta.

Namun di sisi lain, di negara-negara yang orang-orang ateis bisa dikatakan tidak ada, banyak orang juga mengutuki hidupnya. Mereka tahu dan mengerti tujuan mereka untuk hidup, tapi mereka melupakannya. Dan sebagian lagi menjalani tujuan hidupnya, yaitu beribadah, tapi selalu merasa tersiksa mejalani hidupnya.

Kepalanya dipenuhi pertanyaan “apa salahku? Mengapa ia mendapat lebih, bukankah aku lebih baik daripada dirinya? Kenapa setelah bekerja keras hidupku tidak lebih baik dari mereka yang hanya ongkang-ongkang kaki?” dan sebagainya.

Benarlah kata orang-orang bijak bahwa mereka yang mencari taman kebahagiaan di luar diri mereka sama bodohnya dengan ikan yang melompat keluar dari kolam karena ingin merasakan sungai. Daripada menikmati sejuknya air sungai, mereka malah terkapar dari tanah datar, menggelepar, mati.

Dari beberapa paragaraf tadi dapat kita simpulkan bahwa kebahagiaan bukanlah berasal dari harta, kekayaan, kekuasaan, atau pun hal-hal sejenisnya. Melainkan satu kata sederhana namun tidak semua orang memahaminya; syukur. Yang juga merupakan dasar dari sifat qana’ah

Ya, banyak orang-orang ateis yang  tidak bersyukur, karena mereka tidak menerima hakikat adanya Sang Pancipta. Dan banyak juga orang miskin maupun yang berada, beragama maupun tidak, yang sibuk membanding-bandingkan miliknya dengan milik orang-orang yang lebih kaya. Mereka melupakan salah satu esensi hidup sebagai makhluk; syukur pada sang Khalik.

Padahal, seribu empat ratus tahun yang lalu kita sudah diperingatkan:

“…… dan barang siapa bersyukur sesungguhnya syukur itu untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang ingkar sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha terpuji” (Al-Luqman ayat 12)

Iklan

3 pemikiran pada “Syukur

  1. assalamu’alaikum fatah, blog yang menarik *thumbs up*

    alhamdulillah kita dilahirkan sebagai seorang muslim, alhamdulillah kita sekarang seorang muslim, alhamdulillah kita hidup layaknya seorang muslim. beriman kepada Rabb, beriman kepada yang ghaib.. inilah kita, manusia-manusia yang memiliki tujuan yang luas, aim yang jauh– lebih jauh daripada ujuang dunia, lebih jauh daripada ujung umur sekalipun. bukan dunia, bukan dunia yang kita cari, jalan yang kita usaha untuk telusuri adalah jalan menuju kebahagiaan yang abadi! alhamdulillah, kita adalah muslim..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s